Maqdalene

2 JENIS DOSA

By Maq  |    |  14 January 2012

Kita semua tahu ada dosa, kita juga tahu bahwa kita sering terjebak dosa. Masalahnya, tahukah Saudara bagaimanakah menghindarkan diri dari jebakan dosa yang sama yang siap memerangkap Saudara pada setiap kesempatan lengah Saudara? Kebanyakan kita menyerah bahkan menikmati dosa itu, ya merasakan gemritik hati nurani, tapi saking nikmatnya yang namanya itu “hasil curian”, maka dibiarkannya teriakan hati nurani yang meraung-raung pada mulanya, yang lama-lama jadi kebal dan akhirnya tenggelam dalam keterpurukan dosa yang parah.

Dosa Petrus merupakan dosa kejebak, dia diperhadapkan kepada pilihan on the spot, tanpa bisa memikirkan atau merenungkan jawaban apa yang sekiranya pantas untuk diberikan kepada para penanya itu. Dia terjebak dalam pilihan yang keliru hanya karena sudah diwarning dahulu oleh Gurunya bahwa jika ia tidak berdoa, maka ia akan jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Ia sudah siap ditampi, sama seperti kita semua, siap ditampi, diuji, diintip oleh musuh, dan penjagaan utama kita seharusnya DOA. Bukan hanya itu, tetapi pencobaan itu meliputi banyak aspek, juga karena Petrus pengikut setia Yesus yang berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku siap!” maka ia diuji.

Sedangkan dosa Yudas merupakan dosa yang direnungkan, dipikirkan, dipertimbangkan masak-masak, ya keduanya untuk kepentingan diri sendiri, Petrus untuk menyelamatkan dirinya sendiri agar terhindar dari tuduhan dan kematian; sedangkan Yudas untuk kepentingan uang dan masa depannya melulu.

Dosa seringkali merupakan ujian bagi kita, apakah dalam menghadapi ujian yang diperhadapkan dari hari ke hari kita bisa lepas dari lilitannya atau kita terikat dan terjerumus di dalamnya. “Harapkan” bahwa setiap hari akan ada jebakan ujian untuk berbuat dosa, tapi bagaimanakah Saudara menghadapinya, apakah impuls Saudara memikirkan kepentingan dirimu sendiri ataukah “rugi” sementara yang berarti Saudara tidak dapat menikmati keuntungan, kenikmatan dan manfaat-manfaat perolehan untuk masa depan dari hasil dosa itu. Pilihan di tangan Saudara!

Saya berpikir bahwa dosa Petrus jika diperhadapkan di pengadilan timbangannya lebih ringan dibanding dosa Yudas – walaupun kita sudah tahu ending kisahnya, tapi berpura-puralah jadi hakim. Membayangkan diri saya sendiri jika jadi Petrus, saya malah akan teriak keras-keras bahwa saya tidak kenal guru saya – daripada ikutan diarak untuk mati! Ngga munafik, tapi itulah impuls pertama kita, yaitu menyelamatkan diri. Tapi desakan itu datang mendadak, ia menghadapi ujian yang sudah diperhitungkan oleh Iblis. Sama seperti Yudas, ia juga sudah masuk dalam target Iblis, yang malah perjalanannya sudah jauh, yaitu kerjasama untuk menguntungkan pihak musuh selain dari dirinya sendiri. Yudas sudah terperangkap karena ia mencintai uang, ia bisa dipakai iblis untuk menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang. Akhirnya ia bekerjasama dalam pre-meditation, dosa yang dimeditasi dahulu, dipikirkan, direnungkan, dibuahi, dan beranak-pinak seperti kutu. Ia sudah melahirkan dosa demi dosa beruntun dan tidak bertobat. Apa Tuhan menghalangi? Tidak, ia malah disuruh agar cepat melaksanakan hajatnya.

Betapa banyaknya orang berdosa dengan dimeditasi duluan, dipikirkan jalannya, caranya, berbohongnya, menyelipkannya, menghapusnya, menjawabnya, berkelitnya dan segala cara yang ia pikir aman untuk bisa menguntungkannya. Ini jenis pre-meditated sin, timbangannya lebih besar jika dihakimi dibanding dosa mendadak/terperangkap seketika. Kita belajar bagaimana dosa itu bisa membawa manusia untuk berpura-pura, menyembunyikan kebusukan/bangkai itu dalam genggaman, lalu mulai membuat skenario dan mewujudkan impiannya. Ada perasaan takut? Ya. Tapi jika rasa takut itu tidak segera dibunuh dengan berlari dan menjauh atau memotong urat dosa itu seketika dan mematikan hati/perasaan yang sudah sedikit menyatu dengan keinginan berdosa itu, maka lambat laun rasa takut itu perlahan-lahan akan menjauh dan akhirnya ia membiasakan diri dengan dosa. Dosa semakin nikmat, makin menguntungkan daging, masa depan, kantong, tetapi ia persis bom yang hanya menunggu waktu peledakannya saja. Orang tersebut tahu itu akan meledak sewaktu-waktu, tetapi ia tidak berharap hari tersebut akan mendadak tiba dan menyergapnya, maka dosa berlanjut. Yudas pun demikian, ia tahu Gurunya maha tahu, tapi ia tidak berharap diketahui. Ia tetap berharap ada kasih, ada pengampunan, ada nasihat, ada teguran halus.

Kita selalu berharap begitu, berbuat dosa terus dan diampuni terus. Memberontak terus dan dimaafkan terus. Ya betapa tahunya kita bahwa Tuhan itu penuh kasih setia murah hati panjang sabar kasih setia-Nya, tak berkesudahan pengampunan-Nya. Tapi kita tidak mau menerima sisi keadilan-Nya, kita mempermainkan Dia, Sang Raja, Sang Tuhan – kita bergurau dengan diri sendiri, dengan dosa, dengan ‘sebentar lagi’, ‘sekali ini saja’, dengan meditasi lagi, dengan fantasi lagi, dengan menyelup lagi, dengan bermain api lagi dengan harapan tidak akan terbakar.

Seperti manusia di jaman Nuh tidak pernah berpikir bahwa air bah akan datang, atau bangsa Sodom dan Gomora yang tidak pernah berpikir bahwa akan ada hujan api belerang yang menghancurlantakkan negeri itu. Dan Yudas tidak pernah berpikir bahwa Tuhan dan Gurunya akan benar-benar digantung di atas salib karena permainan seru dosanya dengan ketamakannya akan uang.

Saudara tidak pernah benar-benar berpikir bahwa dosa itu akan menyengsarakan keluarga Saudara, tidak pernah berpikir bahwa itu akan menjerat Saudara dan pekerjaan Saudara, bahwa jika Saudara tertangkap atau terperangkap, maka malunya tidak terhapuskan. Dengan segala alasan dan perhitungan yang matang untuk menghindar dari perhatian orang, dari tuduhan orang lain, dari pencekalan pemerintah, pasangan, suami atau isteri, dari keluarga besar, dari anak buah, orang tidak sadar bahwa cepat atau lambat setan itu pasti menyeretnya sampai tujuannya: mencuri, membunuh dan membinasakan. YES, tidak ada yang lebih jahat daripada itu – apapun dosa yang di pre-meditasi akan selalu menghentar pelakunya menuju kebinasaan.

Waktunya adalah sekarang, hari ini. Cut off semua dosa yang telah melilit yang Saudara tahu akan menjebakmu dan membinasakan hidupmu. Sekarang juga, lakukan tindakan drastis, ini akan menyelamatkanmu dan masa depanmu. Ya pasti ada rasa sakitnya, ada lukanya, luka hati, luka perasaan, saling terluka, “rugi” karena minum air curian memang sedap rasanya, tapi bergegaslah, bereskanlah hari ini. Apapun resikonya, apapun ancamannya, Tuhan sanggup melindungi engkau jika engkau bertekad untuk hidup dalam kekudusan bagi Tuhan hari ini.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Galatia 6:7