Maqdalene

AWAL KERENDAHAN HATI, AWAL PENGANGKATAN

By Maq  |    |  28 January 2012

Banyak pemimpin/manager, direktur/bos/pendeta karena terlalu sibuknya, tidak sempat merenung atau meditasi atau mengevaluasi pekerjaannya dengan cermat dan mengadakan perbaikan atau perombakan bertahap. Yang terjadi adalah jika keadaan sudah darurat, sudah di ambang hancur, sudah parah, pecah, bentrok hebat, barulah mereka duduk dan saling menuduh – semuanya sudah terlambat. Jika seandainya seseorang mau duduk dalam kelompok kecil dan membahas pekerjaan dan kualitas hidupnya setiap minggu, akan sangat menguntungkan bagi pekerjaan, rumah tangga, hubungan, peningkatan-peningkatan, kerohanian, dsb. Jarang seorang pemimpin duduk dalam sebuah kelompok dan membuat evaluasi, bersedia menerima teguran dan koreksi dari rekan dan bawahannya; ini merupakan hal yang sangat tragis. Lihat saja di hotel-hotel, bandara, rumah makan, dsb disana ada kotak kritik dan saran. Sebaliknya seorang pemimpin yang tidak siap menerima kritik dan masukan akan sangat membahayakan dirinya. Selain ia takut berubah, ia tentulah tinggi hati. Itulah awal kejatuhan.

Memang untuk rendah hati itu tidak mudah, untuk menerima koreksi itu menyakitkan – tetapi justru itulah yang membawa kepada perubahan dan kebaikan. Hanya orang-orang yang berjiwa kecillah yang tidak suka menerima teguran, kritikan, masukan – dan ada jalan yang disangka lurus tetapi ujungnya menuju maut. Kritikan dan saran selalu bertentangan dengan kehendak hati, tetapi hanya mereka yang berjiwa besarlah yang membuka hati untuk itu dan mendapatkan manfaat besar dari masukan orang lain yang tidak dilihatnya sendiri. Sehebat-hebatnya pengetahuan kita, pastilah ada orang lain yang lebih berpengalaman dan bisa melihat kebaikan lain dari sisi lainnya. Untuk itulah kita bisa ber-team work, kita saling menolong dan menerima.

Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu, kata Raja Salomo. Berarti kalau pingin bijak, malah harus belajar, mendengar, diam, tidak membantah, menambah pengetahuan. Saya melihat banyak orang yang bertitel tinggi malah banyak bicaranya, berarti ia belumlah bijak; sebab ciri orang bijak justru mendengar, menambah pengetahuan dengan cara mendengarkan hal yang baru dari orang lain, bukannya membantah apa yang menurutnya sudah benar. Jika baru, tentulah akan kedengaran bertentangan pada mulanya, tapi jika ia bijak, ia tidak akan membantah duluan, ia akan simpan dulu. Seperti jika orang bijak yang menganggap dirinya baru SD kelas 1 dan belajar dari siswa SMA, maka tentunya pengetahuan matematikanya bukan sekedar 2+2=4; dan jika ada rumus seperti S11 – S10 = U11 [3(11^2) + 11] – [3(10^2) + 10] = 3.121 – 3.100 + 11 – 10 = 3.21 + 1. Jika diberitahu bahwa ada rumus baru seperti di atas, orang bodoh hanya akan terus menerus membantah bahwa itu tidak pernah ada dan sangatlah sesat atau si SMA menganut aliran doktrin baru. Kalau dibilangi bahwa hasil dari semuanya adalah 64, dia hanya berpegang teguh bahwa 64 adalah 16x4, atau 2+62.

Jika ia bijak, ia akan mendengarkan dan menaruhnya dalam hati; pengetahuan yang baru dan tinggi yang belum pernah ada yang dikiranya sesat itu baiklah di-frost dulu, dibekukan dulu, sampai dia naik ke tingkat SMA, baru nanti akan terbuka itu rumus. sebab tentunya kalau berbeda dengan pengetahuan yang dimilikinya, seharusnya ia akan menyerap. Tapi orang yang tidak bijak jika ada sesuatu yang bertentangan (sebenarnya yang baru), ia akan sewot, akan menentang dan menantang abis-abisan, argue – ini ciri-ciri orang bodoh dan bebal. Ujungnya sakit hati dan menjauhi, kalaupun baik di depan, itu cuman munafik saja.

Seorang yang sudah berada di posisi dipercaya dan memerintah, biasanya waktunya sangat padat, susah cari waktu luang untuk duduk barang sejenak. Alangkah baiknya jika seorang pemimpin bisa duduk selama 30 menit di pagi hari untuk minta bimbingan Tuhan, terbuka di hadapan Tuhan atas apa yang akan Dia lakukan sepanjang hari. Tetapi karena selalu terburu-buru waktu, kebanyakan hal ini diabaikan, dan jika sudah malam, gentian ia harus buru-buru beristirahat, sebab keesokan hari sudah banyak pekerjaan menanti. Ini berjalan dan berputar sepanjang minggu sampai sepanjang tahun dan kita benar-benar diatur oleh keadaan dan pekerjaan kita.

Percayalah, makin hari tambah padat dan tidak ada sisa waktu. Walaupun kenyataannya kita sendirilah yang seharusnya bisa mengadakan waktu, tapi kita seringnya malah dikejar waktu, terus tidak punya waktu. Saya merenungkan mengenai pekerjaan dan pelayanan saya yang semakin menggunung, lalu saya juga memperhatikan tingkah laku saya, perkataan saya -- owh, betapa perlunya saya duduk dan minta tolong Roh Kudus untuk memberesi diri saya! Saya tetap duduk bersama Roh Kudus, saya tetap berdoa, tapi kadang Roh Kudus tidak selalu memberitahukan kekurangan saya atau sayanya sendiri kurang peka terhadap hentakan itu saat masih embrio. Saya butuh rekan tim inti untuk mengoreksi saya, untuk membukakan mata saya bahwa yang saya katakan tadi itu tidak enak didengar, dan yang saya lakukan tadi kurang baik, atau mimik wajah yang saya suguhkan itu jelek sekali dan tidak enak dipandang.

Tentu jika mau ngikutin jadwal, saya gak akan pernah bisa duduk 2 jam bersama rekan kelas saya – bagaimana mungkin saya memikirkan bahwa duduk dalam kelas pemuridan sungguh berarti untuk suatu kelangsungan perjalanan manusia rohani saya? Dan sungguh, tanpa duduk setiap minggu dan membuat goal-goal perubahan, saya tidak tahu apa jadinya dengan diriku yang penuh kekurangan dan kelemahan ini? Kami sudah duduk bertahun-tahun untuk melatih diri, melatih kepekaan, mendengar suara Tuhan, dibukakan rahasia Kerajaan Sorga – itupun saya tahu masih banyak karakter yang masih perlu dibenahi; apalagi jika saya tidak meluangkan waktu untuk duduk selama paling tidak 2 jam seminggu untuk proses evaluasi dan pembentukan diri? Saya bersyukur kami mengambil komitmen itu.

Saya mengikuti konferensi yang salah satu pembicaranya adalah pemimpin handal yang saya lupa nama lengkapnya, yaitu Dr. Thompson, salah satu pembahasan beliau mengenai pentingnya kepemimpinan adalah bahwa semakin pemimpin berada di atas, semakin perlu adanya koreksi, evaluasi. Justru hal yang menyakitkan adalah pada saat kita dikoreksi, tapi tanpa itu seorang pemimpin tidak akan bisa disentuh jika ia makin jauh merasa tinggi dan tiba-tiba tanpa disadari ia akan jatuh terjerembab. Saya harus katakan lagi bahwa kejatuhan itu bisa dari level mana saja, jadi bukan hanya dari ketinggian saja seseorang bisa jatuh. Tetapi intinya, seorang pemimpin perlu evaluasi.

Saya tidak bisa bayangkan bagaimana pemimpin yang tidak pernah duduk memikirkan perkembangan pribadinya dan kelemahan-kelemahan yang harus dikikis dari waktu ke waktu. Sebab tipe seorang pemimpin akan lebih banyak memikirkan perkembangan perusahaan atau institusi yang dipimpinnya, juga perkembangan HRD daripada memikirkan diri sendiri. Kalau pun sempat berpikir sebentar, ia akan sambil lalu membiarkannya menguap sendiri dan tidak lagi disinggung atau dipikirkan dengan keras bagaimana caranya mengubah untuk benar-benar berubah sampai terjadi perubahan.

Karena pemimpin akan makin terbiasa untuk TERIAK, MEMAKI, MARAH, TIDAK TERKENDALI, EMOSI, NGATUR, OTORITER, SEMAUNYA, SEENAKNYA, TIDAK PEDULI, TIDAK TAKUT, TIDAK HORMAT, SEMBARANGAN, DAN MASIH BANYAK RENTETAN TIDAK TIDAK KETIDAKAN LAINNYA – maka untuk membuatnya kembali peka dan kembali pada sense baiknya, ia harus duduk dan menyadari betapa kelirunya tadi, betapa kerasnya itu, betapa ternyata salahnya ia, betapa naifnya, betapa cepatnya, betapa emosinya, dll. Tetapi jika tidak duduk dan belajar bagaimana meminta maaf, bagaimana rendah hati, bagaimana menerima kelemahan orang lain, bagaimana berjiwa besar saat diperlakukan tidak adil, dsb, maka seorang pemimpin akan hanya bertambah garang, tinggi hati, sombong, tidak bisa disentuh, kasar, emosian, tidak sabaran, semaunya sendiri, dsbsbx.

Saya melihat bagaimana cara bos duduk, cara bos nelpon, cara bos nyampirin tangan, cara bos teriak, cara bos nyuruh, cara bos bayar, cara buka kaca, kacamata, senyum, nyindir, buang tisyu, kulit permen, perintah karyawan di resto, dll. Semuanya menyiratkan ketinggian hati…tapi di sinilah pembahasan kita, bagaimana kita belajar untuk mengevaluasi diri dan melihat dengan kepala rendah, kembali duduk dan mengikis dan membuat goal-goal harian/mingguan kita.

Cobalah untuk duduk setiap pagi, dan usahakanlah untuk berkumpul dengan orang-orang yang bisa Saudara percayai seminggu sekali. Berdoalah, bertanyalah, beranilah membuka diri, mintalah dikoreksi, rasakan sakitnya, nanti engkau akan merasakan kebaikan di kemudian hari. Ya kita bisa belajar sendiri, tapi kita sering membutuhkan orang dekat kita untuk menolong kita, karena seringkali kita tidak tahu kekurangan diri sendiri. Ya mungkin kita bisa melihat sendiri, tapi kita butuh orang lain untuk menolong kita jadi rendah hati. Dengan kita bertahan bahwa kita tidak mau dikoreksi dan ditolong rekan dekat kita, kita menggambarkan betapa tinggi dan tak terjangkaunya kita.

Bagaimana jika Saudara memulainya dengan anak atau pasangan Saudara dengan contoh pertanyaan di kertas spt:

1. Hal apakah dari diriku yang paling tidak kau sukai? (sebutkan beberapa atau sebanyak-banyaknya)

2. Hal apakah yang kurang disukai? (sebutkan beberapa atau sebanyak-banyaknya)

3. Hal baik apakah yang menurutmu seharusnya bisa saya kembangkan lagi? (sebutkan beberapa atau sebanyak-banyaknya)

4. Hal baik apakah yang sudah baik dan bisa diekselenkan? (sebutkan beberapa atau sebanyak-banyaknya)

Ini awal yang menyakitkan menuju pada pengangkatan.

Betapa indahnya kerendahan hati, betapa mulianya keterbukaan dan kebersamaan antar orang yang dipercaya. Rayakanlah!

 

Amsal 18:12Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”