Sejauh ini kita mendapati beragam mental kekristenan, sebenarnya perbedaan mental itu sudah terbangun berabad-abad sejak jaman kakek-nenek moyang kita. Dan ternyata kita-kita menuai buah yang sama, ada yang menyepelekan kekristenan mereka, ada yang takut Tuhan tapi masih kompromi juga kalau ada kesempatan, tapi ada yang sungguh-sungguh mendevosi hidupnya seluruhnya kepada Tuhan dengan menjauhi keinginan dunia dan daging. Tetapi, justru mayoritas adalah mereka yang mengaku anak Tuhan, percaya Tuhan, tapi tidak benar-benar tunduk pada seluruh Kebenaran. Melakukan hanya apa yang ia sukai dan menghindar dengan berbagai alasan untuk tidak melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Hebatnya Tuhan kita itu, Ia menciptakan manusia dengan kehendak bebas, beda dengan robot diciptakan masih dengan remote untuk melakukan apa yang dikehendaki penciptanya. Tidak demikian dengan Tuhan, itu sebabnya jika nanti ada yang masuk neraka, Tuhan tidak bisa dipersalahkan, karena Ia adil dan manusia diberi kebebasan memilih, tapi jika ada yang masuk neraka karena Tuhan yang sudah menentukannya atau meremotenya, maka Tuhan akan dituduh tidak adil. Walaupun ada Firman yang berkata, “Aku mengasihi siapa yang Kukasihi,” tetapi kita bisa menelusuri mengapa Ia mengasihi mereka yang Ia kasihi; akan sangat tidak adil jika Ia pilih kasih tanpa alasan yang jelas. Dan jika Ia berkata begitu terhadap seseorang, kita juga bisa selidiki mengapa Ia mengasihi si kembar satunya dan membenci lainnya.
Nah, kembali lagi kepada ciptaan Tuhan yang diberi free-will tadi, bagaimana menurut Saudara jika dengan kebebasan inilah justru manusia herannya cenderung suka memilih untuk berbuat dosa? Yang baik tidak dilakukan tetapi yang jahat sangat menarik hatinya. Sejak semula ada banyak pohon yang bagus dan indah-indah, bahkan ada pohon kehidupan yang seharusnya kata “kehidupan” itu menarik hati manusia, tetapi malah yang ada kata “jahat”nyalah yang dilirik dan diminati. Sama dengan anak kecil, kalau dibilang “jangan” malah ia cenderung melakukan perbuatan yang sudah dijangankan itu. Kalau dilarang malah diteruskan; ini kecenderungan dosa dan awal kematian.
Sudah berkali-kali kita mendengar perintah seperti itu, tetapi hati manusia cenderung ke perkara jahat. Ampuni kami, Tuhan; lembutkan hati kami agar kami taat total pada-Mu. Mari kita baca Firman Tuhan yang sangat jelas; Ia Tuhan, Ia tahu dengan pasti segala akhir jalan dan pilihan yang salah, itu sebabnya, Ia melarang dengan kata “janganlah” dan “pastilah” dan “mati”. Seyogyanya kata-kata Tuhan tidak dianggap main-main atau setengah mati atau mati-matian (seperti mobil-mobilan, rumah-rumahan, gitu)
Kejadian 2:16: Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
Kejadian 2:17: tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Waktu Tuhan berfirman, Firman-Nya merupakan kepastian. Waktu Dia berbicara, perkataan-Nya menjadi hukum. Itu bedanya antara kita dengan Tuhan – jika Tuhan ngomong, maka kata-kata-Nya pasti menjadi suatu ketetapan hukum; tapi kalau kita ngomong bisa ya atau tidak, tergantung mood. Itu sebabnya Tuhan jarang ngomong sama kita, sebab kita bisa menuntut Dia kalau Dia sembarangan keluar kata-kata kayak kita. Banyak tercecer larangan-larangan Tuhan di dalam Alkitab kita, tetapi kita tidak begitu mempercayainya, kita mencoba jalan kita sendiri, cara kita yang kita pikir lebih baik, lebih pinter dari Tuhan. Contoh, “terkutuklah orang yang berharap kepada manusia, dan yang mengandalkan kekuatannya sendiri.” Kita seharusnya tahu bahwa dengan melanggar ketetapan itu, kita pastilah terkutuk, tapi herannya orang Kristen tidak peduli, tetap ditabrak itu Firman. Sehingga ia bener-bener terkutuk. Tapi ia tidak pernah menyadari bahwa ia telah terkutuk, sehingga ia terus berjuang, memperjuangkan harapannya pada manusia, otsus, proposal, kenaikan gaji, cara-cara ilegal, pencurian, penggelapan, tipu daya, dua timbangan – ia tidak maju-maju, tidak diberkati, sebab ia terkutuk, ia hidup dalam kutuk.
Masih saja kita bermain-main dengan Tuhan, dengan gereja, dengan pendeta – kita melanggar tapi kita senyum-senyum, pura-pura tuli, buta, bisu, tidak memperbincangkan pelanggaran kita, ditutup-tutupi, seolah-olah tidak ada dosa. Tapi Anda tahu nurani sendiri dan Firman yang dilanggar itu terus menerus menuduh, engkau sudah mati, rohanimu hancur, tergeletak, tapi engkau tidak percaya bahwa engkau benar-benar mati. Engkau berkeliling dengan telanjang di hadapan segenap iblis dan para malaikatnya, juga di hadapan orang kudus, saksi awan dan Sorga. Tapi engkau tidak merasa mati, tidak merasa risih, meneruskan perjalanan kehidupan rohani yang dikiranya masih hidup – sesungguhnya engkau telah mati, pastilah engkau mati! Persis jemaat di Laodikia.
Wahyu 3:14: "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
Wahyu 3:15: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
Wahyu 3:16: Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
Wahyu 3:17: Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
Wahyu 3:18: maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
Wahyu 3:19: Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
Wahyu 3:20: Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Wahyu 3:21: Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
Wahyu 3:22: Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
Let say, Saudara sedang sekarat mau mati, satu-satunya jalan hanya berobat pada satu dokter specialis yang bisa menyembuhkan Saudara hanya ada di Kazakhtan. Sebab hanya di sanalah yang punya peralatan canggih khusus itu, bayarnya mahal, obatnya selangit, belum pengurusan visa, pengantarnya, rumah tempat tinggal selama proses perawatan 3 bulan, belum biaya pesawat PP, masih ditambah perjalanan domestik di sana, naik kereta, ambulans, taksi, dll. Tapi demi sebuah nyawa dan kehidupan, Saudara tetap mau jalani apa saja asal sembuh. Dihadapkan dengan kebutuhan biaya, mau tidak mau Saudara harus menjual tanah plus rumah dan warisan orang tua – tidak apa, semua dilakukan hanya untuk kesembuhan. Sampai di sana, pertama-tama yang diperintahkan dokternya adalah bahwa Saudara disuruh berhenti merokok, cuman minum air selama 3 bulan, setelah sudah menjalani puasa 10 hari sejak hari keberangkatan dan tidak makan daging, gula-gula, kue, dan kacang-kacangan, tidak boleh bicara, apalagi teriak-teriak terhadap pasangan, harus melatih jantung supaya bisa bekerjasama dengan baik dengan peralatan itu, sebab teriak atau naik pitam sedikit, akan merusak sistim mesin. Saudara tidak boleh bekerja, apalagi nelefon, FB-an, SMS-an, Ipad-an. Semua peralatan bertekhnologi dan bermesin harus dijauhkan dari tubuh Saudara karena akan merusak gelombang yang sedang bekerja pada mesin yang digunakan untuk penyembuhan tubuh Saudara. Semuanya diikuti dengan ketat, sebab satu kali saja Saudara menyentuh hape, dokter bilang alat itu langsung berhenti bekerja dan Saudara bisa langsung stroke, gagal otak, gagal syaraf seumur hidup dan tidak ada alat lain di dunia yang bisa menyembuhkannya. Nurut? He-em.
Biar dokter suruh Saudara ‘gila-gilaan’ melakukan sekehendak hatinya demi kesembuhan, herannya Saudara akan tunduk. Tapi, tapi kalau Tuhan semesta alam, Tuhan sumber kehidupan dan kekekalan berfirman, kenapa yah kita banyak mbantah dan tidak percaya bahwa jika kita tetap melakukannya kita bener-bener akan mati? Mengenaskan bukan?
Masih saja kita berkata kita percaya Tuhan, orang percaya, menyembah Tuhan, minta berkat Tuhan, tapi sesungguhnya seperti yang dikatakan oleh seorang pendeta, dengan demikian kita bukan percaya atau beragama Kristen, kita sesungguhnya menganut ajaran sesat, Kristen palsu, Yesus palsu yang kita percayai, sebab kita tidak melakukan seluruh perintah Firman yang dapat menghidupkan kita. Saya baru menyadari kebenaran ini, ya, jika kita tidak seluruhnya berjalan dalam Firman, kita tidak ada dalam Firman. Yesus berkata jika kita tinggal di dalam Firman, maka apa saja yang kita minta akan diberikan. Tetapi sebaliknya banyak anak Tuhan tidak mendapatkan apapun sebab tidak tinggal di dalam Firman.
Beberapa contoh “kematian” dalam Alkitab akibat pelanggaran mereka yang mereka sudah tahu itu berdosa dan akan mengakibatkan hal fatal jika dilanggar.
1. Kepada Ananias dan Safira, mereka sudah tahu seharusnya tidak bisa bohongin pendeta dan Tuhan, tapi mereka nekat, bener-bener mati.
2. Miryam dan Harun mengatai hamba Tuhan, mereka tahu itu tidak benar, Miryam langsung kena kusta.
3. Gehazi sudah tahu bosnya adalah nabi, masih saja ia berbohong. Ia tahu berbohong itu dosa, tetap saja melakukannya. Ia langsung kena kusta, seumur hidup menurun ke semua keturunannya!
4. Raja Amazia tahu bahwa yang boleh membakar ukupan hanya imam, ia merasa sebagai raja bisa melakukan apa saja. Ia tahu itu dosa, itu salah, tapi ia nekat melanggar, ia kena kusta di dahinya, disingkirkan, mati tidak dimakamkan di makan raja-raja.
5. Masih lagi beberapa kisah lain mengenai ketidaktaatan bangsa Israel, Korah-Datan-Abiram, kejatuhan Simson, Daud, Salomo, Saul, Bileam, Ahab, Yudas.
“Sesungguhnya engkau akan mati” sepertinya sudah tidak ditakuti; orang tidak membaca secara leterlek atau berpikir benar-benar mati kematian, padahal jika kita melanggarnya tentulah kita mati, baik secara rohani dan jasmani. Pelanggaran-pelanggaran lain di sekitar kita yang membuat kematian-kematian tertentu, baik mati nama, mati masa depan, mati kesehatan, dll adalah seperti:
1. Sudah tahu kalau mencuri dan tertangkap bisa dipukulin massa, tetap saja mencuri, dan apes.
2. Sudah tahu jika serong dengan isteri sesamanya dosa, masih saja diam-diam sembunyi melakukannya, dan saat ia tertangkap, benar-benar malunya tidak terhapuskan.
3. Sudah tahu kalau main begituan dengan pacarnya akan mudah hamil, masih saja melakukannya, dan waktu hamil sakit hati dan nodanya tak terhapuskan.
4. Sudah tahu bahwa melacur akan terkena penyakit menular, tetap saja tidak percaya bahwa penyakit itu mematikan. Ia tetap melanggar, dan akhirnya tertular, sengsara selamanya.
5. Sudah tahu mencuri waktu dan korupsi adalah dosa, tetap dilakukan, akhirnya tidak dipercaya, menutup masa depannya sendiri. Kalaupun tidak diketahui bos atau orang lain, Tuhan dan tanah mencatat dosa yang dilakukan, dan akhirnya pelanggarannya membendung berkat dalam hidupnya.
6. Sudah tahu judi itu pasti menghancurkan keluarga, tetap saja kecanduan melakukannya, sehingga menyengsarakan anak-keluarga dan menghabiskan seluruh harta, dan menimbun hutang.
7. Sudah tahu cerewet itu tidak baik masih saja tidak dapat menahan mulut, akhirnya tidak disukai suami dan banyak teman.
8. Sudah tahu merokok merusak paru-paru, menggangu orang lain, membuat mulut bau asam, tetap saja melakukannya dan memang paru-parunya rusak dan menumpuk banyak penyakit serta dijauhi orang.
9. Sudah tahu makan makanan berkolesterol berbahaya, tetap saja melahap, karena dipikirnya ada obat penangkal, tapi jika penyakitnya menjalar dan merusak organ-organ lain, ia menanggung sengsara.
10. Sudah tahu cemberut, uring-uringan, tidak sabar, cemburu, iri hati dan pemarah itu merenggangkan hubungan, masih saja meneruskan kebiasaan itu dan akhirnya benar-benar hubungan hancur.
11. Sudah tahu nyontek itu menyalahi peraturan sekolah masih saja dilakukannya, akhirnya nilainya buruk, tidak dipercaya dan dipecat.
12. Sudah tahu menyelundupkan barang ilegal itu salah masih saja dilanggar, tetap saja melakukannya dan akhirnya tertangkap dan didenda.
13. Sudah tahu kalau kerja dan hidup ilegal itu melanggar hukum, dosa dan tidak diberkati, tetap saja melakukannya, akhirnya tertangkap, dideportasi dan sejarahnya tak terhapuskan. Jikalau pun ‘belum’ mengalami itu semua, bukankah hati nurani selalu mengejar-ngejar dan hidup dalam ketakutan dan dosa terselubung yang tak terhapuskan di hadapan manusia dan Tuhan?
14. Sudah tahu kebanyakan shopping…., sudah tahu pakai kartu kredit terus…, sudah tahu masturbasi…, sudah tahu pakai pil…., sudah tahu plagiat…., sudah tahu suka nonton TV membuang waktu, sudah tahu beli DVD bajakan…, sudah tahu malas…., sudah tahu suka minum…., sudah tahu ngintip…., sudah tahu membangkang, tidak tunduk otoritas, tidak hormat orang tua, dllllll.
Masih banyak lagi contoh-contoh yang seharusnya tidak perlu ditulis di sini satu persatu yang kita semua dapat mendeteksi dalam hati nurani bahwa jika kita melakukannya, pastilah kita mati. Tetapi kenapa kita nekat? Kenapa kita tidak takut Tuhan? Kenapa kita tidak menjauhi kejahatan? Marilah kita melembutkan hati dan belajar taat kepada Firman.
Ayub 28:28 tetapi kepada manusia Ia berfirman:
Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat,
dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."