Maqdalene

KEBAIKAN SELALU MENANG

By Maq  |    |  11 February 2012

 

Kebaikan selalu menutupi kejahatan. Kebaikan selalu menang atas kejahatan. Ini terjadi dimana-mana, baik orang yang tidak mengenal Tuhan kita, maupun orang Atheis. Justru banyak dari mereka di luaran sana yang saking begitu baiknya sampai kita sendiri harus malu dan belajar dari kebaikan hati mereka. Entah motivasinya apa, tapi seringkali jika dibandingkan dengan kita-kita sendiri, kita kalah malu karena kita belum bisa lepas kasih tanpa pamrih.

 

Tuhan berkata agar jika kita berbuat baik, berpuasa, memberi maupun hal apapun, sebaiknya tidak perlu digembor-gemborkan, karena upah kita biar terakumulasi di Sorga. Tapi kalau kita ingin mendapatkan pujian di bumi, ya hadiah di sorga menguap. Kita bahkan seringkali kagum terhadap orang-orang yang tidak nampak saat melakukan kebaikan, tapi Tuhan sengaja menguakkan kebaikan itu lewat intipan seseorang yang tidak sengaja dan memberikan pelajaran berharga yang ditinggalkan buat kita. Asal yang menguak bukan kita sendiri yang mengumbar-umbarkan hasil pekerjaan baik kita, biarlah orang lain yang memujinya.

 

Amsal 27:1: Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.

Amsal 27:2: Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.

 

Kisah kebaikan orang ini menyebar bukan karena orang tersebut yang menuturkannya, tetapi karena ada saksi yang melihat orang-orang yang telah didewasakan lewat hidup orang tersebut. Marilah kita simak dan belajar bagaimana menerapkan kebaikan dan berinvestasi dalam hidup orang lain.

 

CERITA MENGENAI 3 KELERENG:

Pada masa-masa susah di sebuah kota kecil Idaho, saya suka mengunjungi toko kecil di tepi jalan milik Mr Miller yang menyediakan produk segar hasil pertanian. Makanan dan uang cukup langka pada waktu itu... dan jual beli dilakukan dengan cara tukar menukar barang.

 

Satu hari, Mr Miller sedang mengepak kentang-kentang yang saya beli ketika tidak sengaja saya melihat seorang anak yang kecil kurus kelaparan, compang-camping tetapi bersih, nampak sedang memilih-milih kacang polong segar yang baru dipetik di keranjang. Saya membayar untuk kentang-kentang saya sambil ikut tertarik pada kacang polong tersebut. Saya adalah penjual kentang dan krim kacang. Saat menimbang kacang polong, tanpa disadari, saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

"Halo Barry, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya si pemilik toko. 'Halo, Mr Miller. Saya baik, terima kasih ya. Saya cuma mengagumi kacang polong ini.... tampak segar dan bagus-bagus"

"Itu memang bagus Barry. Bagaimana dengan ibu kamu?"

"Oh... dia membaik, dan nampak semakin kuat."

"Bagus. Apa ada yang bisa saya bantu? "

"Tidak, Sir. saya cuma mengagumi kacang polong ini.

"Apakah kamu ingin beberapa untuk di bawa pulang?"kata Mr Miller.

"Tidak, Sir. Saya tidak ada uang untuk membayar."

"Jika begitu, apa kamu punya sesuatu sebagai penukar?"

"Saya hanya punya beberapa kelereng hadiah."

"Apakah itu benar? Coba kulihat." kata Mr Miller.

"Ini .. bagus." "Aku bisa melihatnya. Hmm sayang warnanya biru sedang saya mencari warna merah. Apakah kamu memilikinya seperti ini di rumah? "Tidak persis tapi hampir sama."

'Begini saja. Ambil saja dulu kacang polong ini, dan lain kali, kamu bawa kelereng kamu yang merah'. kata Mr Miller kepada anak itu. "Tentu. Terima kasih Mr Miller. "

 

Ny Miller, yang sedang berdiri tidak jauh, datang untuk membantu saya.

Dengan tersenyum dia berkata, "Ada dua anak laki-laki lain seperti dia di komunitas kami, ketiganya sama-sama sangat miskin. Jim suka tawar-menawar dengan mereka untuk kacang polong, apel, tomat, atau apa pun. Jika mereka kembali dengan warna yang diminta, Jim akan berkata bahwa dia sudah tidak mencari warna tersebut dan akan menanyakan warna lainnya. Tetapi Jim tetap memberikan apa saja yang mereka ingin tukarkan."

 

Saya meninggalkan toko sambil tersenyum sendiri, terkesan dengan orang ini. Beberapa waktu kemudian saya pindah ke Colorado, tapi saya tidak pernah lupa kisah tentang orang ini, anak-anak, dan cara barter mereka.

 

Beberapa tahun berlalu dengan cepat. Baru-baru ini saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa teman lama di komunitas Idaho dan mendengar bahwa Mr Jim Miller meninggal dunia. Teman-teman saya berencana untuk berkunjung sore itu dan saya sepakat untuk ikut.

 

Saat tiba di tempat jenazah disemayamkan, kita menemui keluarga almarhum untuk menyampaikan belasungkawa dan kata-kata penghiburan. Di depan kami, nampak tiga orang muda. Salah satunya mengenakan seragam tentara dan dua lainnya berpotongan rambut bagus, setelan gelap dan kemeja putih ... semua tampak sangat profesional. Mereka semua menghampiri Mrs Miller dan berdiri di sampingnya sambil tersenyum kepada jenasah Mr Miller di dalam peti mati.

Setiap pemuda memeluknya, mencium pipi, bicara singkat dengannya dan pindah ke peti mati, dengan mata berkaca-kaca, satu per satu, masing-masing pemuda berhenti sebentar dan meletakkan tangan mereka di atas tangan yang pucat dingin di peti mati. Satu persatu meninggalkan tempat itu sambil menyeka mata.

 

Giliran kami datang menemui Ny Miller. Saya bilang padanya siapa saya dan mengingatkannya pada kisah dari tahun-tahun yang lalu dan ketika ia bercerita tentang suaminya yang suka berbarter untuk kelereng. Dengan mata berkaca-kaca, dia meraih tanganku dan membawa saya ke peti mati. "Mereka tiga pemuda yang baru saja meninggalkan adalah anak laki-laki yang kuceritakan dulu. Mereka hanya mengatakan kepada saya bagaimana mereka menghargai hal-hal yang Jim 'perdagangkan' pada mereka. Sekarang, pada akhirnya, ketika Jim sudah tidak bisa lagi meminta warna atau ukuran kelereng .... mereka datang untuk membayar utang mereka."

 

'Kami tidak pernah memiliki banyak kekayaan di dunia ini," ia mengaku, "tapi sekarang, Jim akan menganggap dirinya orang terkaya di Idaho.' Dengan lembut, dia mengangkat jari-jari almarhum suaminya. Nampak di situ tiga buah kelereng warna merah yang bersinar indah.

 

*Moral Kisah*

Orang mungkin tidak bisa mengingat semua perkataan kita, tetapi akan mengingat segala perbuatan baik kita. Hidup ini tidak diukur oleh nafas yang kita habiskan, tetapi oleh waktu yang kita habiskan untuk bernafas.

 

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Mat 5:16

 

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus bercahaya, dan cahaya terang itu bisa memancar dari perbuatan baik kita. Jadi berbuatlah baik dan menjadi teranglah. Kita selalu tidak mengerti/tidak sadar bahwa Tuhan mengirim orang-orang yang berbuat jahat kepada kita agar kita dapat menyambutnya dengan kasih dan menjadi terang. Sebab jika kita hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, apakah bedanya kita dengan mereka? Tetapi jika kita berbuat sebaliknya, maka Bapa kita yang dipermuliakan. Saat orang mengatai di balik punggung Anda, Anda memberi kasih; saat mereka tidak mempercayai Anda, Anda tetap merangkulnya; saat mereka tidak tersenyum kepada Anda, tetap tersenyumlah. Saat ia mengkhianatimu, layanilah; saat ia menyakitimu, berilah hadiah. Mungkin sukar bagi Anda untuk berbuat kebalikannya seperti ini, tetapi kapan lagi Anda memulainya? Kapan lagi Anda takut akan Tuhan (bacalah ayat-ayat di bawah ini).

 

Inilah saatnya Anda bersinar. Tentukan hari ini siapa yang akan Anda sinari dengan kebaikan, buatlah perencanaan minggu depan dan bulan depan untuk terus bersinar.

 

Lukas 10:27b

kasihilah sesama manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.

Ayub 6:14

Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa.

Amsal 14:31

Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.