Maqdalene

KESEMPATAN MENJADI RAJA

By Maq  |    |  31 December 2011

Kisah Daud sangatlah terkenal; bagaimana ia mengalahkan Goliat dan akhirnya ia menjadi raja terbesar Israel. Kisahnya dibuat animasi, diDVDkan, difilmkan untuk anak-anak dan orang dewasa, diterjemahkan dalam berbagai bahasa, dari keturunan sampai ke keturunan, dari dulu sampai kekal. Tapi apakah kita benar-benar menghayati kerja keras Daud sampai ia bisa mengalahkan Goliat? Kita dapat secara perlahan mempelajari secara detil bagaimana ia beranjak dari bocah gunung sampai ke istana, tanpa harus terlalu rohani “melibatkan” penyertaan Tuhan dan roh Tuhan ada padanya dan bahwa kenyataannya ia diurapi dan dipersiapkan jadi raja Israel.

Kita sudah terlalu banyak bicara masalah kerohanian sehingga mengesampingkan hal-hal wajar yang seharusnya menjadi sisi penting yang tidak kalah dalam mengusahakannya. Banyak anak Tuhan malah jadi batu sandungan bagi atasannya karena mengatasnamakan Tuhan, gereja, kasih, doa puasa, pelayanan – sehingga ia suka minta ijin, kerja sambil ngantuk karena doa semalaman dan loncat-loncat kecapaian di gereja, senin suka bolos kerja, dan hari-hari biasa minta banyak ijin dengan alasan kasih. Itu yang saya maksud bahwa kita sudah terlalu banyak melibatkan kerohanian dan nama Tuhan sehingga hal penting sisi lain dari kerohanian justru diabaikan. Padahal dunia justru sudah sangat alergi dengar ‘ketuhanan’ tapi nyatanya tidak jadi contoh dan tidak lebih baik dari yang tidak ‘ketuhanan’.

Tidak demikian dengan Daud. Ya, ia diurapi menjadi raja, tapi ia mempersiapkan diri dengan tekun. Mari kita pelajari pelan-pelan. Ia maju menghadapi Goliat tanpa pedang. Ia beriman. Tapi bagaimana mungkin ia punya iman demikian besar jika tidak melatih imannya yang kecil-kecilan dulu? Ia pasti sudah berhadapan dengan serigala dan ular, celeng, babi, rusa, kalaupun sudah trend di daerah sana sebelum berhadapan dengan binatang-binatang besar yang ia sebutkan di hadapan raja Saul. Jadi singa dan beruang merupakan latihan imannya yang nantinya dapat mendudukkan dia menjadi raja Israel dan selama-lamanya dalam kekekalan nanti.

Bagaimana Saudara mempunyai nyali yang besar untuk mengalahkan maut, untuk berjalan dalam badai jika tidak pernah latihan berjalan melewati gang sepi dan dalam deru angin di rumah sendirian tanpa gentar? Disuruh pergi sendiri saja takut orang, di suruh tidur sendirian takut setan, disuruh naik pesawat saja takut ketinggian, naik kereta takut kecepatan, mobil takut keramaian, motor takut kepanasan, ojek takut kedebuan, bajaj takut kebisingan, disuruh menghadap si anu saja minta ditemani. Perintah-perintah yang tidak mengenakkan hati Saudara seperti itu justru ladang pelatihan untuk menambah level iman; jika tidak mau sadar dan terus menerus bersungut menolak ujian, maka takhta itu akan jadi milik orang lain yang lebih pantas menjadi raja dengan sikap kebangsawanannya.

Marilah memikirkan sikap bangsawan, sikap kerajaan, sikap raja, sikap ratu. Itu saja seharusnya cukup untuk dijadikan perenungan apakah sikap kita mencerminkan anak raja yang siap memerintah? Apakah hati kita mau belajar untuk didudukkan sebagai raja dan ratu? Saya melihat bahwa setelah Prince William menikah, ia ditugaskan untuk berkunjung ke negara lain seperti Canada dan America. Di hadapan puluhan ribu orang ia harus berdiri dan menyampaikan pidato kenegaraannya, bertukar pikiran dengan raja-raja, memberikan solusi dan jawaban atas permasalahan negara – sekalipun ia masih muda dan belum jadi raja. Tapi ia harus mempersiapkan diri menjadi raja dengan tugas-tugas kerajaan, tugas-tugas yang sukar, tugas yang membuatnya takut, keringatan, gemetaran seperti kita-kita. Ia manusia biasa, ia masih muda, ia demam panggung, tapi ia harus melewatinya, ia harus mengalahkan ketakutannya.

Bagaimana mungkin Petrus berani keluar dari perahu jika ia tidak belajar dari hal-hal kecil seperti percaya pada saat disuruh ambil coin di mulut ikan? Pada saat disuruh mendistribute roti dan ikan yang sedikit untuk ribuan manusia. Pada saat disuruh ngambil keledai yang tertambat, saat disuruh meninggalkan pekerjaannya dan keluarganya, saat disuruh tidak menyayangkan nyawanya bagi Gurunya? Jadi kalau ia sudah belajar untuk meninggalkan semuanya dan mati bagi Yesus, maka disuruh nyemplung di tengah laut yang sedang bergolak pun dia pasti percaya. Dia sudah rela mati, tidak takut mati, sudi mati, siap mati.

Nah, itu yang membawanya untuk mendapat kepercayaan kunci Kerajaan Sorga. Tidak mudah, walaupun kedengarannya sangat biasa, tapi marilah kita belajar bagaimana mengasah kepekaan iman, menaikkan level iman. Karena justru goliat-goliat yang di hadapan Saudara itulah yang akan mendudukkanmu di takhta dan menjadikanmu raja.

Setiap Daud berhadapan dengan binatang, ia tidak terbirit-birit. Semakin besar badan binatang itu, semakin yumm yumm dibuatnya, semakin ia mengejar, makin cepat, makin selesai. Dia menantikan kesempatan lain, bapak beruang atau kakek beruang, singa jantan atau betina, fine. Ia tidak merinding, tidak terisak-isak, tidak kata orang ‘kecewek-cewek’an dan melankolis, tidak naik pohon dan bersembunyi di balik dedaunan; tetapi ia menanti, menyergap, berlari, menjambaknya, menusuk lehernya, membantainya, meremukkan tulang-tulangnya, menginjak lehernya di bawah kakinya dan bersyukur kepada Tuhan yang telah menolongnya dalam keberaniannya (atau bisa jadi disertai kegentarannya).

Beberapa kali ia melakukan hal itu, dan saatnya Tuhan siap mendudukannya di atas kemuliaan. Tetapi ia masih saja harus melalui ujian yang berat, kali ini seorang manusia yang mulutnya bisa mencemooh, yang bisa membuat ciut hati, masih lagi dikelilingi oleh kakak-kakaknya yang katanya kenal sifatnya, di antara ribuan prajurit berbadan besar dan di mata raja. Akankah Daud mundur? Akankah dia bimbang? Terintimidasi? Jika kita sudah melatih diri setiap saat, ya, setiap saat, maka tangan kita sudah siap untuk berperang. Jika kita jarang berlatih dan suka menolak tugas, maka tangan kita kaku. Daud sudah biasa, ia tidak melihat perbedaan Goliat dibanding serigala atau anakan singa. Daud sangat yakin karena ia telah melewatinya.

Saudara akan merasa sangat yakin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar sebab Saudara telah banyak kali melewatinya. Saudara akan sangat tahu caranya untuk membangun mall 21 lantai karena Saudara sudah terbiasa menghitung dan memperkirakan rumah-rumah berlantai-lantai. Saudara tidak gentar berdiri di hadapan puluhan ribu manusia sebab Saudara sudah terbiasa berdiri di hadapan ribuan orang. Saudara bisa mengerjakan pekerjaan ribuan manusia, karena engkau sudah tahu bagaimana mendelegasikan dan dipercaya untuk tugas-tugas harian yang semakin bertambah berat. Tidak beda, hanya berdiri, hanya berbicara; tidak beda juga bagi para kontraktor, cuman membangun, cuman menggambar, cuman menambah bahan. Tidak beda juga bagi Daud, cuman mengumban, cuman mentarget seperti biasa. Jadi tidak peduli musuhnya besar, kecil, sedang tinggi, rendah, bule, totok, kidal, eight packs, one big pack in the middle – sama saja, itu hanya sasaran saja kok. Yang penting ada jidatnya hehee….

Tapi ia sudah melewati kebiasaan, diulang berkali-kali, tidak ada keluhan, karena itu merupakan ‘makanan hari-hari’, pekerjaan sehari-hari, gaya hidup. Jadi jika apa yang diperintahkan oleh bos, otoritas, pendeta, suami, guru, kepada Saudara sudah merupakan makanan sehari-hari, Saudara tidak perlu mengeluh dengan besar-kecilnya pekerjaan, banyak-sedikitnya jumlah atau waktunya, sukar-mudahnya tugas itu, jauh-dekatnya perjalanan, bentak-halusnya nada suara mereka. Saudara hanya melakukan tugas, biasakanlah, nikmatilah, percepatlah, larilah, selesaikanlah – lebih cepat lebih baik. Sebab waktunya akan datang saat goliatmu diperhadapkan kepadamu, dan engkau akan terbiasa melihatnya sebagai suatu tugas tanpa kengerian, dan setelah mengalahkannya engkau akan duduk di takhta.

Kalau Saudara masih mengeluh, berasumsi negatif, bergosip, menimbang-nimbang tugas, memikirkan kepentingan sendiri, mengasihi diri sendiri, membenarkan diri, mutungan, memikirkan keuntungan pribadi -- lebih baik Saudara evaluasi diri, berarti Goliatmu masih ‘kanak-kanak’, ketemunya masih lama. Atau jika Saudara terlalu lama dan tidak bisa diharapkan, Tuhan malah membangkitkan Daud lain dan engkau hanya menjadi penonton sejarah besar tak terulang itu. Tapi jika Saudara sudah tidak peduli dengan perkataan keras, penolakan, tipu daya iblis, tapi Saudara maju gempur saja musuh itu, maka engkau akan sanggup berdiri di hadapan ribuan orang, ribuan musuh, raja-raja, panglima-panglima yang menonton kehebatan imanmu dan engkau akan memenggal goliatmu dan tidak lama lagi engkau layak duduk di tahkta, memerintah.

Pelajaran berharga:

1. Seseorang dihargai dari pekerjaan yang dihasilkannya dan mendapat upah dari jerih lelah yang telah melayakkannya untuk duduk di takhta.

2. Pelajaran berharga lainnya, ternyata bahwa keberanian seorang pemimpin menular kepada orang-orang yang takut. Waktu Daud telah berani dan mengalahkan Goliat, maka seluruh pasukan Israel dan gemetaran menjadi berani, mereka bersorak, mengejar, membunuh, menang.

3. Kemenangan yang berharga yang melibatkan iman dalam hidup kita akan terukir selamanya dalam kekekalan.

Menutup tahun 2011, akan ada banyak tantangan di hadapan Saudara, hadapilah, bersikaplah seperti laki-laki, selesaikan tugasmu dengan berani, tanggalkan segala dosa yang merintangi, majulah, bertempurlah, hai pahlawan, hai pemenang! Take your chance, Tuhan besertamu. Selamat membuka lembaran baru di tahun 2012. Selamat tahun Baru, Immanuel.