Maqdalene

KUMAN KECIL

By Maq  |    |  7 January 2012

Suatu malam waktu saya memasuki rumah saya tercium bau menyengat yang tidak biasa, semula saya pikir dari arah tong sampah yang berada di depan kamar mandi. Saya langsung bungkus plastiknya dan saya taruh di luar rumah. Tapi saat memasuki ruangan kembali saya masih mencium bau itu, bukan sampah, bukan makanan bau, bukan kulit mangga yang saya makan semalam – ini pasti tikus mati, pikir saya. Saya segera menyuruh seseorang untuk mencarinya keesokan harinya. Mereka sudah mencobanya tapi masih belum ketemu, tapi berjanji akan mencarinya dengan teliti, jangan-jangan bangkai cicak.

Keesokan harinya saya mondar-mandir di ruangan saya dan bau itu tidak semenyengat tadi malam – apakah sudah agak kering? entahlah; lalu saya duduk di ruang makan, masih juga hidung saya membau barang busuk itu, tapi tidak tahu dimana letaknya. Tapi lama-kelamaan waktu saya duduk sambil makan kelengkeng, bau itu sudah menyatu dengan bau kelengkeng, jadi saya tidak lagi terlalu membau kebusukan, hidung saya sudah mulai terbiasa. Tapi saya tetap bertekad besok harus dicari sampai ketemu. Sekalipun hidung saya sudah agak terbiasa dengan kekurangtajaman bau busuk itu, saya tetap tidak rela ada bebauan di area saya.

Beberapa hari masih saja asal bau itu belum diketemukan. Sudah bergantian orang-orang mencari barang busuk itu selama beberapa hari, baik isi kulkas semua dikeluarkan, barang di meja semua disingkapkan, masih juga tidak ada - sampai mereka sepakat mendeklarasi bahwa sudah tidak ada bau sama sekali. Saya yang merasa hidungnya agak memetruk sedikit sampai agak kesal memperhatikan degradasi kepercayaan mereka terhadap penciuman saya yang saya tahu lebih akurat dibanding beberapa dari mereka. Masih terus saya minta mereka melacak bersama, bahkan orang-orang yang berlainan – ini tidak boleh dibiarkan walaupun ada sedikit sisa saja. Kisahnya masih berlanjut.

Sekitar 4 tahun yang lalu saya bersama team kami dari Surabaya mengunjungi daerah kumuh di Kembang Kuning Surabaya (mungkin ada participant yang ingat sebab saya mengirim laporan pelayanannya berikut foto-fotonya), kami masuk di tempat sampah luas. Di situ berkumpul orang-orang yang hidup di depan/pinggir sampah. Mereka makan, tidur, nonton TV, beraktifitas di persampahan. Waktu kami masuk ke persampahan itu, hidung kami tidak tahan, tapi kami tidak boleh tutup hidung, sebab kami sedang survey untuk pelayanan. Kami berada di sana, berbicara dengan bapak-bapak, ibu-ibu yang adalah orang percaya yang tinggal disana, dan lama-lama bimsalabim kami tidak lagi merasakan bau anyir itu! Rupanya kami sudah terbiasa seperti mereka. Tapi tidak seperti mereka, kami masih jijik dan berjingkat-jingkat, kami juga teriak waktu tikus sebesar kucing berlari di depan kaki kami.

Ya, kami sudah mengontrakkan mereka rumah tingkat dengan 5 kamar untuk keluarga-keluarga itu, memuridkan mereka, memberi ini-itu buat mereka. Setelah 3-4 tahun berlalu, mereka alasan-alasan tertentu, entah apakah mereka kembali tinggal di persampahan dengan kardus-kardus kuno mereka, entah bagaimana keadaan mereka sekarang. Saya mengambil kesimpulan dalam hidup yang singkat ini bahwa jika kita tidak segera menyingkirkan sedikit bau, kuman, dosa, kebiasaan buruk, excuses (alasan-alasan), ketakutan, minta dimengerti, kelemahan, kekecewaan, dan mulai membiarkan hal itu diam di area hidup kita, lalu dengan berbagai alasan yang bisa dipercaya dan dimaklumi bahwa yah kita khan manusia biasa – akhirnya kemerosotan moral, kekalahan, kerugian, kehancuran akan menimpa hidup.

Apalagi kita masih baru-barunya menginjak tahun 2012, jadi sebaiknyalah kita tobatkan semua kuman-kuman yang sudah membangkai kelamaan dan menyimpan barang busuk itu di dalam rumah rohani kita. Sesudah dibuang-buang, kita memulai pembaharuan hati dan belajar peka jangan sampai membiarkan yang kecil-kecil itu tinggal. Baik dosa usang, ketidaktaatan ringan, ngga mau denger dikittt aja, pura-pura tidak mau dengar, bebal, terbiasa melanggar peraturan lalin, Firman, ortu, pendeta, suami, atasan, dsb.

Jadi, jika bebauan atau kebusukan tidak segera disingkirkan dan terus didiamkan, akhirnya kita akan terbiasa dengannya dan sangat bisa menikmati hidup dalam kekotoran tanpa kita menyadarinya. Jika diulur lebih lebar lagi, saya juga sering mencium bau kuno jika masuk ke gereja-gereja tertentu; yang dengan mudah dapat dideteksi bahwa pikiran pemimpinnya pun sudah kuno, cara pandangnya pun sudah kadaluwarsa, kepemimpinannya pun sudah pasti ketinggalan, apalagi penerapannya! Kasihan jemaatnya dan dia sendiri, tapi sangat disayangkan bahwa ini tidak dicari penyebabnya, tidak disingkirkan bau-baunya. Saya pikir, saya tidak akan membiarkan rumah saya bau, walau hanya sedikit slenting-slenting kadang saja. Jadi kami memutuskan bahwa mungkin bau itu berasal dari atap plafon di atas meja makan. Keesokan siangnya kami memutuskan untuk minta seorang tukang memanjat plafon dan mencari bangkai tikus raksasa yang terkapar di antara kabel-kabel tegangan tinggi. Karena di rumah lama kami pernah ada tikus mati di plafon sampai mengeluarkan set-set yang menari-nari lewat lubang-lubang tipis di sela-sela plafon dan jatuh di lantai kami. Jadi, kami mengambil kesimpulan bahwa kali ini bangkai itu meringkuk di plafon hanya saja set-setnya belum menggeliat keluar dan meluncur terjun bebas. Jadi sebelum tukang plafon datang, kami mengutus seseorang yang belum pernah mencari bebauan itu di sekitar meja makan dan daerah kulkas. Dengan keahliannya ia mulai menyingkap dan membaui semua yang terletak di atas meja, dari tusuk gigi sampai kecap manis; dari aqua gelas sampai sambel sachet. Dan, yang tidak pernah tertebak oleh pelacak-pelacak sebelumnya adalah bahwa di atas meja itu ada chicken brand yang mungkin kadaluwarsa atau sedikit terbuka tutupnya, sehingga dari botol imut itu keluarlah bau bangkai ayam mati berhari-hari.

Saya juga berusaha untuk terus mencium model/type kepemimpinan Kingdom, jangan sampai saya terperangkap dengan kekunoan dan mempercayai diri sendiri tanpa mengamati sekeliling dan menerima masukan. Juga belajar dari sekitar, menambah wawasan, terbuka terhadap pembaharuan, dan semua yang menyangkut ketidakterjebakan dalam anggur lama.

Antara hidup kita sekarang dan suatu hari nanti ditentukan oleh “hari ini”. Jika kita tidak mengambil tindakan “hari ini” maka kita akan hanyut oleh keterbiasaan penciuman kita yang akhirnya menyatu dengan daerah sekitarnya, kita tidak lagi sepeka pada waktu pertama membau barang “busuk” itu. Saudara kenal barang busuk apa yang sempat tercium atau terdeteksi penciuman Saudara pada waktu pertama mungkin dalam hal pekerjaan, uang, otoritas, perkataan, perlakukan, penghormatan, relationship, pelayanan, dsb – tetapi karena kuman yang “kecil” itu tidak segera disingkirkan, maka lambat laun tanpa disadari itu telah memerosotkan moral Saudara, karakter, kepemimpinan Saudara, dan akhirnya keseluruhan hidup Saudara.

Jarang seseorang memikirkan jalan-jalannya sejenak dan mengevaluasi tindakannya – sehingga kemerosotan yang sudah terlalu merosot jauh tidak akan lagi menjadi suatu ‘bebauan’ lagi baginya; dan jikalau pun di tengah-tengah jalan seseorang menyatakan kepadanya atau Tuhan menegurnya, itu akan menyakitkan dan sukar untuk berbalik, sebab akarnya sudah sangat dalam. Jika dicabut akan sangat menyakitkan atau memalukan, tetapi jika dibiarkan akan mematikan. Hanya orang yang berani “malu” dan “sakit”lah yang siap untuk dibentuk dari awal.

Pembahasan kita kali ini memang tidak vulgar, artinya tidak terang-terangan mengupas suatu kasus tertentu secara jelas, tapi saya yakin Saudara pembaca tahu kuman masing-masing yang selama ini dibiarkan terbiasa lewat penciuman rohani. Saya juga tidak memberi jalan keluar khusus yang spesifik dan detil karena setiap kasus penangananannya berbeda-beda – tetapi siapa berani untuk kehilangan nyawa ia akan memperolehnya, ini saja nasihat saya, Firman kehidupan, Firman yang berkuasa.

Pernah saya diberi nasihat oleh profesor saya sewaktu berada di Amerika, jika saya hanya mengutik-utik penyakit, itu akan lama kesembuhannya, tetapi sekali kamu berani melakukan operasi caesar, sekalian besar sakitnya tapi segera sembuhnya. Dan saya melakukan tepat seperti apa yang dikatakannya – saya dipermalukan, dituding, dihindari, tetapi waktulah yang membuktikan kebenarannya. Saya bersyukur sejak itu berani melakukan operasi-operasi caesar lainnya, cepat sakitnya tapi cepat sembuhnya.

Apakah ada kuman yang sudah membangkai? Apakah Saudara pikir perlu dicaesar? Kapan? Bagaimana? Apakah Saudara berani jika harus

1. menanggung resikonya?

2. kehilangan uang,

3. masa depan,

4. posisi,

5. teman baik,

6. nama baik,

7. reputasi?

Apakah Saudara tidak berani menanggung segala resiko? Mengapa? Apakah Saudara:

1. Masih mencintai kuman dosa itu?

2. Apakah mencintai dosa itu daripada taat kepada Tuhan?

3. Apakah tetap mau menanggung resiko membahayakan di dunia?

4. Bagaimana resiko kekal?

Pikirkanlah dengan ketat, jika nanti malam Tuhan datang, apakah Saudara sudah yakin jika berhadapan dengan Tuhan dengan hati yang seperti ini? Apakah perbuatan Saudara menguntungkan hanya di dunia ini dan merugikan jiwamu dalam kekekalan? Ambillah keputusan itu SEKARANG, HARI INI. Kita tidak mengerti kapan Tuhan datang, tapi Ia datang sangat segera.

Saat ini kami sedang belajar untuk MAKSIMAL. Melakukan segala hal yang baik dengan maksimal, bertobat dengan maksimal, memberi dengan maksimal, agar kita jangan menyesal jika harus menghadap Tuhan malam ini juga. Tidak ada reserve apapun yang tertinggal dengan berpikir bahwa Tuhan bisa datang anytime, jadi kita bisa selalu maksimal dalam segala tindakan kita.