Hidup dengan cara dunia dan sorga sangatlah berbeda. Jika di dunia kita menghadapi orang bengis, kita akan jengkel, marah, tidak peduli, jahat balas jahat, galak ganti garang, naik pitam serang kenaikan pitams; tapi kalau kena yang baik ya balas baiklah. Prinsip itu mah biasa dan duniawi, tetapi sebagai anak Tuhan kita diminta untuk berbeda agar terang kita nyata, nyala. Jika kita sama dengan orang dunia, bagaimanakah kita bisa menerangi mereka yang hidup dalam kegelapan?
Inilah waktunya kita menampilkan terang. Minggu lalu saya mendorong agar para Pembaca setia membeli gift untuk orang yang membencimu,…apakah sudah dilakukan? Kirim kesaksiannya ya, supaya kami tahu bahwa dorongan, Firman dan tulisan FMH tidak sia-sia. Tuliskan kesaksian dan dampaknya, pasti seru. Dengan belajar melakukan hal ini, maka Saudara akan mulai melihat dampak yang berbeda, dan tahun-tahun yang akan datang Saudara akan menikmati hasilnya, dan cahayamu semakin terang. Mohon ayat-ayat di bawah ini dibaca dengan penghayatan Natal dan kerinduan hati Juru Selamatmu ya.
•Mat 5:38: Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
•Mat 5:39: Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
•Mat 5:40: Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
•Mat 5:41: Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
•Mat 5:42: Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
•Mat 5:43: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
•Mat 5:44: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
•Mat 5:45: Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
•Mat 5:46: Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
•Mat 5:47: Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?
•Mat 5:48: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
Berjalan bersama murid-murid yang Tuhan percayakan kepada saya dan yang sudah kami ajar sedemikian lama pun ternyata masih banyak yang kebobolan, belum siap jadi terang, masih juga membalas kejahatan dengan kejahatan atau berkurang sedikit, yaitu membalas kejengkelan dengan cemberut dan ditinggal pergi saja. Akhirnya waktu mereka berjalan dengan saya dan saya harus berjalan di depan, mereka baru belajar kembali dalam keadaan kepepet bagaimana harus berbeda dengan dunia, bagaimana harus menjadi terang dan menggarami. Ini tidak bisa dibuat-buat, ini harus sudah jadi prinsip, sebab jika dibuat-buat, kita tidak akan mampu berkedok jika langsung diperhadapkan dengan masalah.
Waktu itu setelah teman-teman berbelanja, mereka mendapatkan form tax refund yang dapat ditukar di airport dan uangnya dikembalikan sekian persen. Karena ada 3 orang yang akan mendapat tax refund, saya menemani mereka. Kami berjalan ke gate H-1, walaupun seharusnya gate kami di D-3, perjalanan ke Roma. Rupanya kami salah masuk lorong airport, dan seorang penjaga di sebelah sana teriak keras sekali bernada membentak. Salah satu murid kami jengkel dan berkata, “Huh, kita dianggap anjing!” Satunya gemeteran dan grogi. Saya cepat-cepat maju ke depan dan menjawab pertanyaan garangnya:
Petugas: Hoehhhh, pada mau kemana kalian?!!
Maq: Kami mau cari tempat tax refund, Sir.
Petugas: kalian mau pergi kemana?!!!
Maq: Roma, Sir.
Petugas: Setelah itu?
Maq: Ke Holland
Petugas: Trus?
Maq: Malta
Petugas: Lanjutannya kemana lagi?
Maq: Swiss, Netherlands, baru Indonesia.
Petugas: kalian bisa menukarkannya nanti pada embarkation terakhir sebelum kembali ke negaramu, tahu!!!
Maq: Baik, Sir. Terimakasih banyak (Nyengir giginya diperlihatkan). Thank you, Sir. God bless you.
Petugas: What?
Maq: (Nyengir selebar-lebarnya) God bless you…
Petugas: Tersenyum (ketegangan di wajahnya berubah, rupanya dia kena ‘garam’).
Pertanyaannya nrithil bertele-tele, nggak langsung aja dijelaskan bahwa kalau mau nuker tax refund sebaiknya di negara terakhir sebelum kembali ke negaramu. Tapi dia juga nggak berpikir bahwa kami akan sambung menyambung perjalanan, jadi dia juga bertanya lanjut-berlanjut sambil membentak-bentak. Apalagi berpikir bahwa jika ke loket tax refund, kami harus menunjukkan semua barang yang dibeli. Jika dari negara ke negara kami sudah banyak membeli dan harus menunjukkan semua barang pembelian kami dari awal, maka susah untuk packing barang di koper, sebab seharusnya semua bisa dimasukkan ke koper dan langsung ditimbang sebelum dimasukkan ke bagasi. Tapi dengan adanya tax refund ini, kami agak sedikit repot karena beberapa negara mengharuskan kami untuk menunjukkan semua barang, kecuali pakaian dalam, jika dipakai mau tidak mau mereka percaya saja.
Saya menjelaskan kepada murid-murid bahwa petugas itu hanya melakukan tugasnya, jadi gak perlu diambil ati, justru itulah kesempatan bagi kita untuk jadi garam. Jika kita sama jengkelnya dan mirip judesnya, maka roh kita akan hancur dan tidak bisa menggarami dia, tapi dengan saya menjawab lembut, manis dan memberkatinya, dia kegaraman dan keasinan. Saya berpikir bahwa sepanjang tahun dan setiap hari dia membentak orang-orang yang salah jalan dan menghadapi orang-orang yang suka keliru mondar-mandir di airport dari berbagai negara, dan jarang diperlakukan manis apalagi diberkati – dia hambar, bekerja untuk membentak, bekerja untuk uang. Tiba-tiba ada satu anak Tuhan yang memperlakukannya demikian, dengan cara berbeda, manis sikapnya dan menciptakan bunga di hatinya…what a day!
Yang biasanya pulang selalu membentak anak dan isterinya, memukul sapi dan itik-itiknya, hari itu dia pulang bersiul bawa muffin buat pembantunya, bawa bouquet buat isterinya, bawa dot baru buat bayinya, bawa topi buat anak lelakinya, bawa setumpuk makanan buat mertuanya! Sebab apa? Dia diberkati dengan God bless you – dia benar-benar menangkap itu sebagai suatu berkat, karena jarang atau mungkin tidak pernah dia mendengar ‘blessing’ selama ini. Oleh sebab itu, jadilah berkat bagi orang lain, jadilah garam dalam kehambaran dunia, jadilah terang dalam keburaman bumi.
I Peter 2:18: Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
I Peter 2:19: Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
I Peter 2:20: Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
I Peter 2:21: Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
I Peter 2:22: Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
I Peter 2:23: Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
I Peter 2:24: Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
I Peter 2:25: Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.
Atasan Saudara bengis? Kalap? Nggak masuk akal? Edan? Sinting? Di situlah kesempatan Saudara untuk memberkatinya, menyembuhkan kegilaannya, supaya ia jadi waras dan diberkati, supaya keluarganya dipulihkan dan engkau akan diangkat menjadi atasan yang dapat dipercaya sebab engkau berbeda. Saudara akan berkata,“Engkau merancangkan kejahatan kepadaku, tetapi Tuhan merancangkannya menjadi kebaikan bagiku.” Jangan mengatakan hal ini kepadanya, tapi cukup engkau nantinya tahu dalam hatimu bahwa selalu ada kesempatan emas di balik kejahatan orang lain.
Tapi kalau bosmu membentakmu karena Saudara bersalah, ya sebaiknya sadar diri, berbenahlah. Sebab bentakan itu baik bagi jiwamu, agar engkau sadar dan siap untuk berubah. Saya mulai memikirkan baiknya bentakan, teguran, sindiran orang terhadap saya jika memang saya memerlukan pembenahan di bidang itu dan orang takut blak-blakan selain menyindir. Hanya saja kalau sindirannya tidak tepat tentunya tidak mempan, tapi kalau jiwa saya agak melonjak sedikit karena memang di sana masih ada luka yang perlu dibenahi, maka sakit itu baik. Kenapa sakit dan baik? Karena sakit itu menunjukkan masih adanya masalah/borok yang harus dibenahi. Tapi kalau sakit itu dibiarkan dan malah menyalahkan orang lain, maka kita rugi, kita tidak berbenah dan jadi indah malah jadi buruk karena menyalahkan orang itu dan membenarkan diri sendiri.
Saya bersyukur ada orang-orang yang tidak mengerti saya, yang mengatai saya di balik punggung, yang tidak menerima pengajaran saya, yang mempersalahkan saya – fine, really. Saya punya kesempatan untuk menjadi terang bagi mereka, sekalipun banyak dari mereka adalah pendeta dan hamba-hamba Tuhan senior, tapi mereka pun sedang bersama-sama dengan saya belajar jadi garam dan terang. Dan jika saya mendahului mereka dan memberi contoh langsung kepada mereka, saya yakin mereka akan cepat tertular belajar jadi garam. Sure banyak pendeta yang tidak tahu bagaimana jadi garam walaupun ahli dalam mengkhotbahkannya; sure banyak pendeta yang menjelekkan sesama hamba Tuhan dan tidak sadar bahwa mereka dipakai sebagai alat. Tetapi jika kejahatan itu dibalas dengan kebaikan, dan jika ia menangkapnya sebagai suatu kesempatan, maka ia akan menularkan terang itu kepada sesamanya. Saya bersyukur bahwa ada kesempatan untuk bisa menjadi garam, menjadi terang, membalas kejahatan dengan kebaikan. Bersyukur jika Saudara disakiti, karena inilah kesempatan kita menambah poin di Sorga jika kita membalas dengan kebaikan.
Jika kita melakukan tugas kita dengan percaya (menghormati dan mengasihi atasan kita yang bengis sekalipun), maka Tuhan akan melakukan tugas Firman-Nya, karena itu adalah Firman Tuhan, kita harus mempercayainya tanpa syarat. Tidak usah dipertanyakan, tidak usah membuat alasan ini-itu – itulah yang disebut IMAN.“Adakah Kudapati iman di bumi?” Ini merupakan perenungan bagi kita anak-anak Tuhan. Ya, saya akan memberikan iman itu di hadapan Tuhan saat Engkau datang, Yesus. Ini harus menjadi jawaban kita kepada-Nya; tetapi harus disertai dengan perbuatan yang sesuai dengan takaran iman itu. Percaya, lakukan, sekalipun tidak masuk akal.
Di bawah ini merupakan kisah rakyat di Cina. Ini merupakah filsafah umum yang digandrungi oleh pembaca, selalu pembaca kagum akan kisah-kisah semacam ini, tapi kenapa bagi orang Kristen yang diperintah mengasihi musuh dan membalas kejahatan dengan kebaikan justru paling sukar melakukannya? Apakah hanya sekedar menyukai kisah, mengagumi orang lain tapi tidak mau menerapkannya pada diri sendiri? Pada pasangan yang menjengkelkan, mertua yang menyebalkan, “saingan” market atau pendeta atau gereja yang Saudara pikir tidak benar? Marilah kita belajar jadi pelaku Firman.
REAKSI YANG BERBEDA
Suatu ketika Guru Zen Foyin minum teh bersama Su Dongpo, seorang pejabat tinggi dan juga penyair di sebuah kedai makanan. Anehnya, seorang pelayan di kedai tersebut melayani keduanya secara berbeda. Guru Zen dilayani layaknya pelanggan pada umumnya, sedangkan Su Dongpo dilayani secara istimewa. Su Dongpo merasa kurang nyaman diperlakukan istimewa seperti itu. Ia pun berkali-kali mendesak pelayan tersebut agar mau memberikan pelayanan istimewa juga kepada Guru Zen. Namun pelayan itu sama sekali tidak menanggapi desakannya. Usai minum teh, Guru Zen membayar sesuai harga minuman yang sudah dipatok kedai tersebut. Tetapi sebelum beranjak pergi, Guru Zen dengan sikapnya yang ramah menyempatkan diri memberikan uang tambahan atau sering disebut uang tip kepada pelayan yang melayaninya tadi. Tak urung sikap Guru Zen mengundang tanya dalam benak Su Dongpo. “Ehmmm, sikap pelayan tadi kurang baik bukan?” tanya Su Dongpo ragu. “Ya, betul. Boleh dibilang sikapnya terlalu materialistik dan kurang menyenangkan,” kata Guru Zen merinci. “Lalu kenapa Guru memberi tip kepadanya?” sergah Su Dongpo bingung. Guru Zen tersenyum, kemudian berkata singkat dan tegas, “Kalau memang dia seperti itu, lalu mengapa harus dia yang menentukan sikap saya?” Kesimpulan: Orang lain bebas memilih sifat yang mereka sukai. Kita pun bebas merespon sikap yang mereka tunjukkan terhadap kita. Entah dengan sikap senada, positif atau negatif, semuanya terserah kita. Tetapi akan lebih baik kita tidak terpancing dengan untuk merespon dengan negatif atau amarah bila mendapatkan perlakuan negatif. Jangan biarkan orang lain menentukan sifat kita. Ketika kehidupan ini memberimu secangkir kopi, hiruplah dan nikmatilah kopi tersebut. :)
Kisah guru Zen dan filsafahnya mengajar bagaimana ia bertahan dalam segala situasi, tetapi saya mengajar bahkan kita harus berada di atas situasi. Itulah judul dari Bab 1 pelajaran kelas-kelas KCC. Penerapan Guru Zen lebih condong menguntungkan diri sendiri, walaupun hal itu tetap berdampak bagi orang di sekitarnya, tapi jika kita menaruh pendekatan kepada bagaimana menjadi garam dan terang bagi orang lain, itu akan jauh lebih menguntungkan sesama. Kepentingannya justru di orang lain, bukan di diri kita sendiri. Adalah lebih berbahagia dan diberkati jika kita memberi daripada menerima.