Maqdalene

Breaking News: "The Shifted Ministry"

SURAT - 5

 

Jakarta, Februari 2010

Yang dikasihi Tuhan Participant Setia,

 

Kisahnya terlalu panjang, semuanya terjadi secara tiba-tiba di awal tahun 2010 ini. Tidak terasa juga kita sudah memasuki bulan kedua, ini menambah percepatan langkah hidup kita pada tahun ini. Jika Saudara sudah bersama kami, menjadi participant setia The Kingdom dan atau masuk dalam Pemuridan KCC (Kingdom Community Center), maka Saudara akan tahu betul mengenai TUJUAN HIDUP Saudara. Banyak kali saya mengulas mengenai ‘Tujuan Hidup’ tersebut dan menyadarkan berulang-ulang bahwa Tuhan punya tujuan mengapa kita dilahirkan di sini, pada generasi ini, dengan spesifikasi seperti yang Saudara miliki – semuanya tidak meleset dari tujuan Tuhan agar Saudara dipakai bagi maksud-maksud-Nya yang mulia saat ini.

 

Bicara mengenai Tujuan Hidup, kami Team Kingdom selalu kekurangan cara untuk mengucapkan terimakasih kepada Saudara yang dengan setia dan ‘tutup mata’ sudah bergandengan tangan dengan kami beberapa tahun terakhir; dimana ‘peraturan’nya adalah: Saudara yang sibuk dengan urusan kantor dan keluarga tidak harus pergi ke ladang misi, tetapi dengan benih jiwa yang Saudara tabur kami berjanji untuk menjadi kaki bagi Saudara untuk melaksanakan tugas ilahi untuk memberitakan Injil sampai ke bangsa-bangsa (waktu saya menulis kata “berjanji” mata saya langsung panas dan saya sekarang mengetik dengan buram karena airmata meleleh). Saya dan Team Saudara di kantor Kingdom selama bertahun-tahun dengan serius dan tanggung jawab tinggi melaksanakan tugas yang kita pikul bersama, - Saudara menaburkan benihnya dan kami menjadi kakinya. Ini tidak pernah sekalipun kami lalaikan, semua uang kami persembahkan untuk kepentingan Amanat Agung Kristus. Setiap bulannya kami mengirimkan laporan dan foto-foto pelayanan kepada Saudara. Tugas ini tidak mudah, tetapi kami senantiasa dipimpin Roh Kudus untuk menggapai dunia dengan kasih. Inilah tujuan hidup kita, melakukan kehendak-Nya dengan nafas dan pinjaman hidup yang hanya sebentar.

 

Dengan judul “Breaking News: The Shifted Ministry” ini, sebenarnya pelayanan ini merupakan kelanjutan dari pelayanan The Kingdom, namun demikian Tuhan justru membuat pelayanan kita jadi dipadatkan, compact, dan exponensial. Rangkumannya adalah: Biasanya kita yang pergi ke luar, tetapi sekarang Tuhan mengirimkan mereka kepada kita untuk dilatih secara intensif lalu pulang untuk menyebarkan dampak bagi orang-orang di pulau-pulau, kota dan desa.

 

Bagi para Participant yang sudah bergabung dengan Kingdom 2 tahun yang lalu, Saudara pasti tahu dan mengikuti perkembangan pelayanan kami yang sedang mengarah kepada penggenapan visi Tuhan yaitu KCC di Sentul. (Kisahnya agak panjang, tetapi gambaran globalnya saya rangkum di buku terakhir saya tahun lalu berjudul INSANITY). Ada berbagai cara dimana Tuhan mau agar kita bersama-sama menunaikan Amanat Agung Kristus. Dulu jalannya selalu kita yang pergi ke luar, memberikan ceramah dan pelatihan singkat, lalu mengirim buku dan produk-produk khotbah, mengirimkan barang dan uang; tetapi ternyata Tuhan mengarahkan kita kepada pelatihan murid untuk menjalankan tugas Amanat Agung (akan lebih jelas lagi jika Saudara mendengarkan VCD khotbah berjudul “Rahasia Besar Menjadi Murid”). Dengan adanya wadah KCC ini, merekalah yang akan datang kepada kita, dan kita memberikan pengajarannya, lalu mereka membawanya ke tempat masing-masing, kemudian menerapkannya di gereja mereka, di komunitas mereka, keluarga mereka, lingkungan mereka dan market place (karena murid-murid KCC terdiri dari berbagai kelompok, kebanyakan kaum profesional, bisnismen, karyawan, pelayan Tuhan/gereja, pendeta-pendeta). Ini merupakan cara kerja exponensial – bukan tambah tapi pangkat. Saya melihat kejeniusan Tuhan dalam menolong mempercepat dan mengefisienkan pelayanan kita bersama; dengan keyakinan bahwa kedatangan-Nya sudah sangat dekat dan kita harus berlari.

 

Bermula dari awal bulan Januari kemarin, dimana beberapa rekan dan Team kita menyodorkan orang gelandangan kepada saya dengan harapan pelayanan kita akan merambah kepada penyediaan tempat tinggal, penyediaan lapangan pekerjaan, pendidikan-pelatihan gelandangan, dsb. Berhubung hal itu menyangkut pelayanan “orang miskin”, masa sih saya menolak? Dengan cepat rekan-rekan dan Team kingdom mulai mencari rumah untuk penampungan (yang sudah kami cuplik sekilas bulan lalu tetapi belum tuntas dan saya berjanji akan menuntaskannya), lalu membawa keluarga ‘gelandangan’ tersebut dan Kingdom diminta agar siap membereskan mereka. Entah mengapa, saat melihat mereka, saya merasa tidak bisa memandang mereka. Hari-hari itu saya mendiskusikannya dengan Tuhan; kalau ada sesuatu yang nggak beres dalam hati saya saya minta dikerat, tolong dibenahin – dengan orang gelandangan kok sikap saya skeptis dan kurang warm.

 

Dalam hitungan hari (2-4), keluarga pemulung tersebut menyatakan keberatannya tinggal di rumah yang kami juluki Peace Home (PH). Mereka tidak tahan dengan peraturan, tanpa kebebasan, adanya kebersihan dan alasan-alasan lain yang tidak diungkapkan. Saya minta agar keesokan harinya mereka mengangkut keluar semua barang-barang yang memenuhi salah satu kamar di Peace Home tersebut yang sudah identik dengan bau sampah. Baju-baju mereka, makanan berceceran, piring, minuman, sambel kering, menyalakan TV semalaman (mereka membawa TV, DVD player, 2 kipas angin, sepeda, dll), berlarian dengan suara langkah kaki kencang di malam hari sehingga membuat ketua asrama tidak bisa istirahat, dan teriakan serta tangisan anak yang tidak bisa dibendung. Saya sendiri tidak ingin ikut campur, karena saya merasa ini bukan bagian saya, walaupun seharusnya saya belajar untuk terlibat di dalamnya – makanya sampai saat itu saya masih berdoa minta tuntunan.

 

Hari itu Senin 11 Januari 2010; dan saya minta agar mereka segera keluar hari Selasanya, cuman keesokan harinya. Dalam pada itu, hari Sabtu sebelumnya (tgl 9/1) saya sedang berkomunikasi dengan rekan pelayanan saya Ketua Pengusaha di Makassar Ibu Emmy mengenai kemungkinannya untuk mengirim beberapa pengerja gereja lulusan sekolah teologi untuk dimuridkan langsung di pusat, yaitu di Kantor Kingdom (KCC). Karena Ibu Emmy melihat bahwa pemuridan yang kami adakan di sana berjalan lamban, nggak begitu nampak perubahannya dan pasang surut, maka saya berkata bahwa jika mereka mau datang sebaiknya hari Rabu tanggal 13 Januari 2010 saja, sekalian mereka menghadiri pembukaan kelas-kelas pemuridan baru yang kami adakan di kantor Kingdom.

 

Perbincangan kami berlangsung di hari Sabtu tanggal 9 Januari 2010; tetapi Ibu Emmy harus menunggu untuk bertemu dengan pendetanya hari Minggunya untuk dimintakan agar 3 pengerja gerejanya diutus ke Jakarta supaya kami didik secara intensif. Minggunya kami mendapat kabar bahwa pendeta mereka sudah ACC, dan mereka siap membeli tiket pesawat one way. Hari Selasa proyek gelandangan kami gagal, dan hari Rabunya ketiga pengerja pria utusan dari Makassar datang dan kami langsung memuridkan mereka secara intensif. Jadwal program pelatihan padat segera kami susun keesokan harinya; dan hari-hari berikutnya sampai kemarin malam dan tentunya masih berlangsung hari ini dan beberapa hari ke depan merupakan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan bagi saya. Saya tidak tidur selama berhari-hari karena otak saya bekerja keras menyusun konstitusi, surat-surat, pra-seleksi, rapat dewan, pengangkatan dewan dan faculty (staff pengajar yang diangkat dari murid-murid pemuridan reguler yang dalam kesehariannya selama satu tahun kami muridkan sudah sangat kelihatan dampak perbedaannya, baik dalam pekerjaan dengan standar Sorga, baik dalam tingkah laku, tutur kata, hubungan, paradigma – semua diubahkan dalam proses pemuridan KCC. Di bawah nanti kami akan sertakan salah satu kesaksian mereka), dan masih banyak lagi pekerjaan yang menyita waktu saya, langkah-langkah besar ke depan yang tiba-tiba muncul berbaris-baris. Benar-benar seperti menyusun ketetapan berdirinya sebuah negara atau universitas; dan saya dituntut Tuhan sebagai visioner untuk bekerja ekstra siang-malam waktu yang lainnya tidur agar rencana Tuhan terlaksana bagi generasi kita.

 

Tuhan yang turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan itu, ternyata Peace Home yang tadinya dipersiapkan untuk para gelandangan, jatuhnya malah merupakan rumah untuk hosting murid-murid intensif ini yang meguru selama 3 minggu. Peace Home hampir “kurang layak” jika nantinya murid-murid yang diutus datang lebih banyak dan terdiri dari pria dan wanita; karena dengan 4 kamar hanya ada 1 kamar mandi. Tidak disangka juga daerahnya rawan banjir, jadi jika hujan deras kami agak deg-degan siap-siap menaikkan kulkas. Kami juga minta salah satu murid untuk betulin lantai lotengnya supaya tidak berderit-derit jika diinjak, juga bikin tembok supaya air tidak masuk dari depan. Rumah ini benar-benar darurat dan manual karena memang sedianya dipersiapkan untuk pemulung dan gelandangan. Kami menggunakan dana KCC sebesar Rp. 27,5 juta untuk menyewa rumah ini selama 2 tahun; dan puji Tuhan, God is always good, sebelum hari H-nya Dia sudah menuntun kami untuk membeli mobil bekas yang ternyata sangat diperlukan untuk kepentingan transportasi yang datangnya seperti mendadak ini. Harga mobil sebesar Rp. 81 juta. (mobil kuda second warna merah tahun 2003)

 

Jadi kami langsung memenuhi rumah tersebut dengan peralatan dapur, perlengkapan kamar seperti lemari 2 pintu, kasur sederhana, kipas angin (sepertinya belum bisa dipasang AC). Kingdom mengirimkan kulkas ke rumah tersebut; saya sendiri menyumbangkan sofa sederhana dari rumah yang hanya untuk duduk 4 orang, - saya pikir setidaknya ada tempat duduk daripada gelaran di lantai; saya juga memberikan salah satu alat olah raga kaki di sana, - dan apa saja yang bisa kami berikan untuk mengisi rumah tersebut. Belum ada meja belajar, belum ada kaca rias, belum ada mesin cuci; jadi para murid harus nyuci jemur manual (gapapa, Maq melakukannya bertahun-tahun juga kok, karena rumah kecil dan tidak ada tempat untuk naruh mesin cuci); - keperluan jadi bertumpuk, tapi kami sukacita karena mempersiapkan semuanya untuk memperlengkapi murid-murid Tuhan yang akan berdatangan dari pulau, desa, kota, bangsa-bangsa.

 

Mereka melakukan pelatihan dari pagi jam 9 sampai jam 5.30 sore. Tidak disangka bahwa paradigma mereka ditunggangbalikkan, mereka yang datang dengan kesombongan teologi ternyata harus bertobat dan dibekali dengan hati hamba yang siap membela gereja, jemaat dan Amanat Agung Kristus. Laporan antar Jakarta-Makassar terus menerus ‘on’, selalu positif dan mengagetkan diaken, majelis dan pendeta mereka. Karena terjadinya perubahan yang radikal tersebut, maka Makassar merasa perlu mengirimkan utusan lain yaitu dari Komisi Wanita dan Komisi Pasutri agar dididik secara intensif supaya sekembali mereka ke gereja Makassar mereka akan membawa pembaharuan dalam sistim kegerejaan mereka. Dan dengan gaung perubahan yang cepat inilah, maka kita harus siap dengan semua fasilitas untuk melayani dan mendidik mereka secara profesional.

 

Dengan adanya proyek mendadak ini (menurut perhitungan kami, tetapi sudah diperhitungkan baik-baik oleh Tuhan pastinya), maka kas Kingdom melorot sampai bawah. Saya terkejut sejenak waktu melihat saldo Kingdom tinggal 7 juta, tetapi saya yang mengajarkan bahwa kita harus bisa melihat beyond what we see with our natural eyes (melihat di balik mata telanjang), saya pun yakin bahwa jika Tuhan mulai eksekusi rencana-Nya, maka uang pun akan Dia alirkan dengan lancar. Tidak ada alasan untuk kekurangan uang dalam menggenapi rencana-Nya.

 

Jika Saudara mengikuti perkembangan visi kami mengenai proyek pembangunan real gedung di Sentul ‘nantinya’ (pelepasan pengumumannya sudah setahun lewat tetapi saya masih diam karena Tuhan belum mengkomando agar membangun, dan tanah belum diserahkan kepada kami walaupun kami sudah menawar dengan iman tanpa uang di tangan. Kami terharu karena terbukti tetap saja ada beberapa gelintir Participant yang dengan setia mengirim dana KCC yang kepada mereka kami menyatakan ketulusan yang dalam akan hormat serta terimakasih kami atas sebagian hatinya yang diserahkan bagi proyek ini); justru dengan dikirimkannya 3 pengerja dari Makassar inilah merupakan titik awal atau pilot project buat nantinya Tuhan akan membawa kita bersama kepada penggenapan visi di Sentul itu.

 

Sebagaimana saya katakan di awal tulisan tadi bahwa kisahnya terlalu panjang dan terjadinya terlalu cepat. Yes, ternyata tahun 2010 ini adalah tahun percepatan; dengan dimulainya kami mengajar murid-murid secara intensif, maka kami mulai mendaki untuk menggenapi visi besar itu. Saat kami menggelar pemuridan reguler kloter berikutnya (2 grup, per grup 12 orang) di kantor Kingdom pada tanggal 13 Januari 2010 yang lalu, kami sudah merasakan bahwa tempat kami sudah tidak memadai. Sudah ada beberapa kelompok grup pemuridan yang berlangsung pada hari yang sama dan berbeda. Kami tidak punya ruang kelas khusus, jadi untuk sementara kami memakai ruang-ruang yang bisa dipakai di kantor kami, dan sejauh itu mereka okay. Tetapi saat ini kami sudah merasa bahwa kami harus mencari gedung lain yang lebih besar sebelum KCC Sentul dibangun, Amen!

 

Saya sendiri malam-malam dan siang kemarin putar-putar daerah Jakarta Utara untuk mencari gedung yang besar atau 2 jajar ruko yang berlantai 4, atau bekas bank untuk dijadikan tempat pelatihan pemuridan KCC. Tidak disangka ternyata kontrak kantor Kingdom sudah habis bulan Januari, dan kami minta perpanjangan kepada pemiliknya selama 3 bulan sementara mencari tempat yang lebih layak, puji Tuhan Yesus.

 

Sejauh inilah info perkembangan pelayanan kita. Kami ingin membenamkan pengertian Amanat Agung ini ke dalam hati saudara bahwa Tuhan mulai membawa pelayanan Kingdom ke arah pelatihan intensif (ada short course, long course, full course, intensive course, advance course, dsb) agar Injil dengan efektif dapat diterapkan ke gereja-gereja yang tidak tahu menahu tentang pentingnya “menjadikan segala bangsa MURID”. Untuk itu, kami bangga Saudara berani menggandeng tangan kami untuk menunaikan Amanat Agung Kristus untuk ‘pergi dan jadikanlah segala bangsa murid’ bersama kami.

 

Tadi saya menerima surat dari hamba Tuhan besar di Amerika yang menuliskan nama-nama donatur pelatihan Internasional; skala pelayanannya melatih dan memperlengkapi para pemimpin dari negara dunia ke-3. Saya melihat jajaran nama yang tidak saya kenal tentunya, dan waktu saya scroll down, saya tidak berharap akan melihat nama Maqdalene Kawotjo tertulis di antara nama-nama seperti Adebanjo R. Ademuyiwa, Oyekan Oluwafemi Adeniran, Adedapo Emmanuel Adeola, Agboola J. Adewale, Haastrup A. Adewole, Awopetu Oluseye Adewunmi, Adegboye Adeyanju, Ernest Kobla Adjiwu, Joash G. Ado, Devotsou K. Afeli. Saya berpikir, oh, pemberian itu sudah lama sekali. Belakangan ini saya terdorong untuk mengirimkan lagi, belum tahu bagaimana caranya mengirim jarak jauh, tapi itu bukan alasan untuk tidak memberi. Saya tinggal pergi ke Money Gram atau bahkan BCA ditransfer luar negeri, beres – yang mana akan segera saya lakukan. (Red: sudah dilakukan)

 

Saat membaca itu, saya berpikir begini: jika Tuhan memperkenankan nama kita untuk ditulis dalam wall of giver, wall of steward, wall of faith, wall of murah hati, wall of Qorban, - itu akan jadi papan peringatan selamanya yang tidak terhapuskan oleh alam dan jaman. Seringkali kita berpikir untuk kepentingan diri sendiri yang sampai mati tidak pernah ada habisnya, tetapi dengan memikirkan Tuhan dan rencana-Nya, proyek-Nya dan Amanat Agung-Nya, kita menjadi bagian sejarah yang tidak terhapuskan dalam kekekalan.

 

Hormat kami,

The Kingdom & Proyek KCC