Maqdalene

Jerih Payahmu Tidak Sia-sia

Surat - 2

 

 

Karena itu, saudara-saudara yang kekasih, berdirilah teguh,

jangan goyah, dan giatlah

selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu,

bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan

jerih payahmu tidak sia-sia.

1 Korintus 15:58

 

Kata “giat” dan “jerih payah” hampir mempunyai kekuatan sifat yang sama. Giat artinya tidak biasa-biasa saja, dan berjerih payah artinya bersusah-susah, juga tidak biasa-biasa saja. Berarti, jika dalam pekerjaan Tuhan kita tidak giat dan berjerih payah, tentunya interpretasinya adalah bahwa pekerjaan kita dan persekutuan kita dengan Tuhan akan menjadi sia-sia belaka, bukan? Entah betul entah tidak jika saya artikan secara leterlek sepertinya begitu sih. Tapi saya akan membeberkan beberapa contoh kisah Firman dan pengamatan saya, dan saya minta Saudara sendiri yang mengambil kesimpulan.

 

1. Kita akan lihat ayat di bawah ini. Pada saat itu Tuhan kita capek banget, memberi makan, dan kerap kali mereka nggak mau melewatkan peluang untuk sekedar didoakan, sekedar konseling, dll. Akhirnya Ia tetap harus bertemu banyak orang sakit dan menyembuhkan mereka, tumpang tangan, usir roh jahat, teriak-teriak, interview, dan kerap kali mau ngambil waktu makan aja nggak sempet.

 

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Matius 14:23

 

Tapi, herannya saat orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Ia sendiri masih pula (berjerih payah) naik ke atas bukit (terjemahan lain: atas gunung) untuk apa? berdoa, man! Padahal hari sudah malam, pelayanan sukses; ngapain Dia susah-susah sendirian hiking “cuman” untuk doa? Itu yang saya namakan jerih payah. Apa ada bedanya kalau doa hanya di kamar deket bantal-guling, atau bahkan di bawah kenyamanan selimut sambil teriakin Inem untuk sediain kopi dan roti mesyes biar siap disabet setelah doa yang singkat itu? Saudara menilai sendiri.

 

2. Di Solo, salah satu anggota jemaat gereja yang dilayani orang tua saya, ada seorang ibu setia bernama Tante Liong Sien (nama suaminya). Dia menjadi anggota sudah hampir 30 tahun, orangnya sederhana, jual es batu dan diantar kemana-mana naik sepeda karatan untuk membiayai 5 anaknya dan seorang suami. Anak-anak tumbuh besar dan memberinya banyak cucu-cucu, - semua anak-anaknya berhasil dan diberkati. Tanpa ada yang menyuruhnya, setiap membawa dagangan es-nya ke warung-warung rupanya Tante Liong Sien mengambil kesempatan untuk menginjil dan diam-diam dia sudah membawa jiwa-jiwa baru tak terhitung banyaknya ke dalam kerajaan Sorga. Ibu ini tidak banyak bicara, tidak pernah complain, tidak pernah menjelek-jelekan gembala kepada siapa pun. Papi saya memberi julukan “mesin pembawa jiwa”. Dia selalu datang ke gereja untuk doa pagi jam 5-6, menyandarkan sepeda es-nya yang ada karet ban hitam untuk mengikat es, dia kerap kali mengantuk karena capai, tetapi tetap pagi demi pagi selama puluhan tahun ia berlutut di bawah kaki Tuhan untuk memberi pengangungan.

 

Di pihak lain, ada seorang wanita cantik, kaya raya, selalu terlambat jika datang ke gereja, berdandan dengan asesoris penuh, rambut jambul, parfum nusuk hidung, the latest fashion, memberi persembahan 20 ribu, banyak “menyalak”an cercaan, usul heboh ini itu, tidak pernah puas dengan kepemimpinan atasan, tidak pernah ikut doa pagi, bezoek, atau kegiatan-kegiatan gereja lainnya, tetapi terus menerus mengeluarkan ide yang tidak applicable di gerejanya. Waktu usul-usulnya tidak diterima dan diberi nasihat agar belajar tunduk otoritas, dia pindah ke gereja lain dan menjelek-jelekan ibu gembala. Mana yang dinamakan giat dalam pekerjaan Tuhan dan jerih payahnya tidak akan sia-sia? Jelas yang pertama.

 

3. Ada yang tanya kepada saya kenapa Yesus duduk menghadapi peti persembahan. Jawab saya: A) Mungkin karena tempat duduk lain sudah penuh dan yang ada cuman di situ; dan karena tempat penuh, maka mereka pun duduk tercecer di deretan kursi yang tidak sama – buktinya setelah melihat peristiwa berharga yang nggak boleh dilewatkan untuk murid-murid-Nya, Yesus memanggil mereka dan memberitahukan pentingnya hal itu. B) Atau malah memang di sinagoge tersebut tempat duduk VIP memang pas di depan peti kolekte, dan dikhususkan untuk Rabi besar kita. C) Atauuu, jika kita mau menerjemahkan dari sudut “divine appointment” tentunya mudah, yaitu memang Bapa menghendaki demikian, supaya pelajaran ini dapat diwariskan kepada kita-kita.

 

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." Markus 12:41-44

 

Kisah ini tidak butuh terjemahan lanjut, karena sudah dapat disimak kedalaman maknanya. Hanya saja kenapa harus ditulis lagi untuk menggugah perhatian? Karena memang banyak orang tidak cukup memperhatikan bahwa tanpa berjerih payah dalam memberi pun, pemberian kita sia-sia. Lho, tapi bukankah Tuhan melihat hati dan tidak melihat jumlah pemberian? Siapa bilang? Hati kita nampak dari cara kita memberi uang. Perempuan janda ini memberi seluruh nafkahnya, bukan perlimabelasan atau pertigapuluhan, yang jika dibandingkan dengan pemberian orang-orang kaya, 2 peser nggak sebanding – tapi ia memberi dengan jerih payah. Mengapa kisah ini harus ditonjolkan? karena Yesus ingin menggarisbawahi pemberian janda ini: seluruh nafkahnya!

 

4. Pada tahun 1995, Universitas South Missisipi menerima sumbangan sebanyak US$ 150.000. Bagi Universitas South Missisipi, menerima sumbangan sebesar US$ 150,000.- adalah hal yang biasa. Namun ketika mereka tahu siapa penyumbangnya, mereka langsung berubah sikap. Yang mereka kagum bukan karena jumlahnya, melainkan karena penyumbangnya adalah seorang nenek Negro berusia 88 tahun yang seumur hidupnya tergantung dari mencuci dan menyeterika baju. Ia kumpulkan uang itu, dan ia persembahkan untuk anak-anak muda agar mereka dapat melanjutkan sekolahnya dan tidak bersusah-susah seperti dirinya. Nenek yang patut dihormati tersebut bernama OSEOLA McCARTY. Perbuatannya ini menunjukan kasih sejati yang keluar dari lubuk hatinya. Kasihnya menggemparkan dunia, sehingga membuat ia menjadi tokoh pemimpin persembahan kasih. Harian NEW YORK menyebut ibu pencuci baju yang kasihnya seperti emas (28/9/1999), ia juga terpilih sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh (yang bisa membangkitkan semangat) di dunia dalam tahun 1984-2000. Malahan setelah ia wafat pada tahun 2001, majalah Penghargaan pada edisi khususnya yang ke 100, memasukan OSEOLA McCARTY sebagai salah satu dari 100 orang yang terkaya di dunia, yang sederetan dengannya adalah tokoh-tokoh pemimpin pengusaha kaya. Mereka mewakili orang Amerika bagaimana menjadi sukses. OSEOLA McCARTY dideretkan dalam salah satu tokoh yang berprestasi, padahal ia tidak punya sepeser uang. Ia bisa dideretkan pada pemimpin orang-orang kaya karena ia membuat seluruh orang Amerika berpikir ulang dalam menganggarkan sumbangan mereka. Ketika persembahan kasih OSEOLA McCARTY tersebar, berbagai pujian dan penghargaan seperti air bah mengalir kepadanya. Ketika ia diminta saksi di sebuah gereja, ia disambut dan berjabatan tangan dengan Presiden Amerika Bill Clinton dan mendapat piagam sebagai Warga USA yang baik dari Presiden, piagam ini adalah penghargaan besar yang kedua yang diberikan pemerintah Amerika. Selain itu, piagam yang ia terima lebih dari 300 buah. Universitas Harvard juga menganugerahkan gelar Doktor kepada OSEOLA McCARTY. Ia juga diundang dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti : penyampaian Api Olympiade di Missisippi, Tahun baru di New York Time Square menyalakan knop jam, dsb; dan setiap OSEOLA McCARTY muncul di tempat umum, orang-orang seperti air bah mengerumuninya, banyak orang mengagumi dan ingin berbincang dengannya. Majalah Penghargaan tahun 2001 edisi 100 memasukan OSEOLA McCARTY sebagai orang ke 6 paling berharga, banyak tokoh terkemuka seperti pendiri bisnis keuangan , pendiri toko buku, mantan presiden Bill Clinton, presiden George Bush, pemimpin televisi <SIAPA INGIN JADI ORANG KAYA>, pemimpin acara Oprah, bos majalah penulis komik horor Stephen dan pakar ekonom, tokoh penerima nobel Paul Kelusman di urutan setelah OSEOLA McCARTY. Ada seorang jutawan bernama Ted Turner setelah mengetahui hal tersebut terkesan dan mengatakan : “Kalau OSELA McCARTY yang kecil bisa menyumbangkan semuanya, maka aku akan menyumbangkan US$ .1,000,000,000.-“ dan Ted Turner kemudian benar-benar melakukannya. Dan ia menjadi orang dalam sejarah yang menyumbang pada badan PBB sebesar US$ 1,000,000,000.- Ted Turner dinilai Majalah Penghargaan sebagai orang ke 5 yang berprestasi, hanya selisih satu angka di depan OSEOLA McCARTY. Pengaruh OSEOLA McCARTY terus berkembang, setelah Ted Turner, orang terkaya di dunia, Bill Gates, juga tergerak hatinya dan membuka dompetnya, ia menyumbang ke yayasan sosial PBB sebesar US$ 21,000,000,000.-.

 

Manakah yang disebut jerih payahnya tidak sia-sia? Ted Turner, Osela McCarty atau Bill Gates? Tariklah kesimpulannya sendiri.

 

5. Di Korea ada sebuah gereja yang sejak berdirinya gembala sidangnya berketetapan untuk menyumbangkan 80% dari seluruh pemasukan gereja ke ladang misi. Mereka juga mengirim orang-orang militan di gerejanya yang sudah dilatih beberapa tahun untuk dikirim ke ladang misi. Mereka kerap kali “kehilangan” orang-orang handal mereka yang dipersembahkan untuk menggarami dunia. Tiap bulan mereka mengirim uang ke luar untuk misionari utusan mereka, maupun badan-badan misi dunia lain; mereka tidak pernah berkekurangan, bahkan Tuhan menambah-nambahkan jemaat yang berpotensi dan menambah jumlah pemasukan gereja dengan angka yang tidak terduga. Padahal gereja mereka sangat sederhana, bentuknya hanya kotak seperti gudang, tetapi uang mengucur dengan deras dan dialirkan dengan setia, 80%.

 

Di tempat lain ada sebuah gereja yang megah, mewah, jemaat merasa nyaman dengan semua fasilitas gedung gereja, karena memang setiap dana yang masuk digunakan untuk kebaikan jemaatnya, supaya mereka tidak lari kemana-mana – mereka mengumpulkan dan berkelimpahan.

 

Dari kedua contoh gereja luar biasa di atas ini, menurut Saudara mana yang berjerih payah, silakan menimbang jawabannya.

 

6. Hal biasa yang terjadi di perkantoran, atau anak buah Saudara sendiri. Memang peraturan kantor yaitu masuk mungkin jam 8 tepat, dan pulang jam 5. Setiap pekerja selalu datang on time, bahkan kadang-kadang terlambat karena memang (alasan) macet ini itu; dan mereka selalu melihat ke dinding menanti-nanti jam pulang. Tepat pukul 5 sore, mereka langsung cabut.

 

Ada seorang karyawan yang datang membawa makanannya sendiri, datang dengan pakaian rapi, tidak membuang waktu jam makan yang ditentukan, yaitu 1 jam, namun secepatnya ia selesai makan, ia segera kembali ke ruang kerjanya, menolong menyapu lantai, mengumpulkan kotoran yang tercecer di mana-mana, merapikan kertas-kertas yang berserakan, dan banyak kali ia menyelesaikan semua tugasnya hari itu sampai agak larut malam, walaupun ia tahu kerja sukarelanya tidak akan mendapatkan ganti uang lembur. Sikap hatinya terpancar dari kerelaannya dan ke’giat’annya dalam menunaikan pekerjaannya – ia tidak bekerja untuk kepentingan uang, tetapi ia berusaha bertanggung jawab dan menyenangkan hati tuannya.

 

Mungkin bagi kita sangatlah wajar untuk melakukan hidup secara wajar; tetapi saya heran mengapa Alkitab saya mengajarkan hal-hal yang di luar kewajaran standar umum. Mungkin kita harus mengusahakan suatu pekerjaan yang dapat menambah nilai jerih payah. Pekerjaan yang bukan untuk mengembalikan hasil yang memang seharusnya layak kita terima. Atau pelayanan yang hanya sekedar tugas tanpa menjiwai dan terbeban memberikan hati. Lalu keintiman doa yang bukan menuntut jawaban-jawaban doa tetapi lebih berpusat kepada menyenangkan hati Dia yang saya layani. Juga pemberian yang tidak sekedar melemparkan uang kecil ke kantong persembahan atau kas misi atau gaya rutinitas mingguan atau bulanan, tetapi suatu pengorbanan yang dapat disejajarkan dengan sifat kata jerih payah dalam memberi. Bukan, bukan untuk keuntungan gereja, pendeta, badan misi, pelayanan, tetapi agar dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia. Ternyata Tuhan hanya memperhitungkan jerih payah, di luar dari batas yang hati nurani kita tahu bahwa apa pun yang kita lakukan bagi-Nya tanpa disertai dengan ke-jerih-payah-an, maka tidak ada persekutuan dengan Tuhan.

 

INFO RENCANA PROYEK KCC

 

Sekilas perkembangan perencanaan proyek gedung KCC (bagi yang belum mendapatkan keterangan mengenai Introduction about KCC sebanyak 14 halaman, silakan kirim e-mail kepada kami agar tidak ketinggalan informasi), -- telah diberitahukan bahwa tanah yang 3 hektar masih ditahan dan belum mau dijual oleh pemiliknya (tanahnya terbagi menjadi 2 bagian, yaitu 7 hektar dan 3 hektar). Jadi, kepada kami, mereka hanya menawarkan tanah yang selebar 7 hektar, puji Tuhan! Dari semula saya sudah merasa dalam hati bahwa hati saya lebih memberatkan tanah yang seluas 7 hektar, walaupun agaknya, sekilas saja yang 3 hektar mempunyai view yang sedikit lebih baik, dan beberapa Team Kingdom condong yang 3 hektar. Dan pada waktu itu, (entah timbul dari saya sendiri, entah Roh Tuhan yang menaruhkannya dalam hati saya) saya merasa bahwa tanah seluas 7 hektar itu nantinya akan terbeli dengan harga 3 miliar rupiah. Harga ini relatif sangat rendah dibanding dengan harga yang ditawarkan, yaitu per meter perseginya seharga Rp. 140.000,- (masih bisa nego). Kalau pun mungkin ditawar Rp. 100.000, berarti jatuhnya 7 miliar rupiah, tetapi saya imani harganya hanya 3 M saja.

 

Dengan memberi ulasan mengenai JERIH PAYAH ini, kami tidak ingin Saudara merasa terpancing untuk memberi bagi pembangunan proyek Tuhan KCC di Sentul. Kami ingin mengajar kepada Saudara supaya memberi hanya jika dipimpin oleh Roh Kudus. Jangan sampai memberi karena emosi, tidak berpengetahuan, atau karena merasa terintimidasi. Saudara harus memberi hanya jika Roh Kudus menaruhkan angka dalam hati Saudara tidak bisa ditepis, yang (seringkali) angkanya di luar akal, di luar kehendak hati Saudara, dan itu biasanya sejenis dengan yang namanya jerih payah. Tetapi dengan mengatakan demikian kami bukan mendorong Saudara untuk memberikan persembahan jerih payah kepada kami; kami hanya menyampaikan hakekat kebenaran dari pemberian yang biasanya merupakan tuntunan Roh Kudus. Dan jika Saudara tidak dituntun untuk menabur di proyek ini, kami turut bersukacita bersama Saudara, karena kami yakin, apa yang Saudara lakukan, kemana Saudara menabur, itu merupakan proyek lain Tuhan yang harus terlaksana juga pada generasi ini. Jangan sekali-kali memberi karena terpaksa dan memberi tanpa jerih payah, sebab keduanya sia-sia, tidak diperhitungkan. Saudara harus taat dan mengenal suara Tuhan dengan baik, jangan memberi sembarangan atau asal-asalan. Dan Tuhan sendiri yang menuntun setiap orang untuk masuk dalam proyek-Nya yang besar, agar Ia dapat memberkati si penabur dengan harta bangsa-bangsa yang sudah menanti untuk dikeruk, yang khusus disediakan bagi mereka yang berani taat dalam berkorban bagi proyek rencana-Nya di bumi.

 

Tentunya aturan main Tuhan bukan seperti yang kebanyakan diharapkan dalam doa-doa anak-anak manusia: “Tuhan berkati aku, supaya aku bisa memberkati pekerjaan-Mu”. Ini salah strategi. Sorga punya sistim kerja yang berlawanan: Berilah, maka kamu akan diberi. Jadi prosesnya adalah: memberi dulu, baru engkau akan mengeruk harta bangsa-bangsa yang bukan kepada siapa-siapa lagi disediakan, tetapi kepadamu, anak-anak kepercayaan Tuhan yang sengaja ditempatkan di market place. Memberinya gimana? dengan …………….. …………… Sudah tahu jawabannya khan?

 

Supaya jalan-Mu dikenal di bumi,

dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.

Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah

kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.

Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai,

sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil,

dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Sela

Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah,

kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.

Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.

Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!

Mazmur 67:2-8

 

By Faith,

Maqdalene Kawotjo & Kingdom Team