Maqdalene

Lahirnya Sebuah Visi


Menyadari keberadaan diri saya sendiri yang sampai sekarang belum dipercaya uang sampai M-M-an, menurut perhitungan manusia sangatlah tidak mungkin untuk melaksanakan visi Tuhan untuk membangun KCC. Tetapi mempelajari sejarah providence Tuhan selama bertahun-tahun, khususnya sejak keluarnya saya dari rumah bapa-ibuku sampai terjalinnya kerjasama dengan para participant – tidak dapat disangkal bahwa Dia akan memampukan kita bersama untuk menggenapi mimpi Tuhan ini.

 

Berhubung saya disadarkan bahwa ini bukan kehendak saya, bukan mau-mau sendiri, bahkan saya hanya menjabat sebagai jongosnya Tuhan, maka saya rileks; saya hanya akan mengerjakan tugas sesuai perintah, dan Dia akan mensuplai semua kebutuhan bahan bangunan dan tetek bengek yang diperlukan guna tercapainya sarana gedung KCC itu nanti.

 

Awalnya, saya merasakan hentakan keras bahwa saya harus berpartisipasi dalam membangun moral, mental, kepribadian, dan roh bangsa Indonesia. Tahun-tahun pertama waktu saya berkeliling untuk khotbah di gereja-gereja, saya merasakan kesia-siaan tanda kutip dalam roh saya. Karena dalam satu jam pengajaran, tidaklah mungkin saya bisa menolong mengubah manusia roh mereka. Dibutuhkan kekonsistenan dan bantuan intensif untuk terjadinya perubahan yang signifikan. Menyadari hal ini, saya mengerang pada jam 2 malam di hadirat Tuhan, dan Tuhan menaruhkan di hati saya, yang saya pikir tadinya hanya merupakan “Bimbingan Diskusi” pada akhir setiap Bab dari buku Menikmati Kemustahilan, ternyata itu menjadi alat pacu untuk membantu brain-storming menuju perubahan manusia roh.

 

Dalam pada itu, saya mulai menolak undangan-undangan menggiurkan khotbah satu jam dengan imbalan amplop tebal, tetapi mulai fokus kepada pemuridan tanpa memikirkan imbalan. Saya ingin membantu membangun manusia roh para murid yang hatinya siap untuk dimaksimalkan agar nantinya memenuhi tujuan Tuhan sampai garis finish dengan sempurna. Ingat Efesus 2:10, ini ayat acuan penting yang berkali-kali saya sodorkan kepada pemirsa khotbah, bahwa kita harus melakukan pekerjaan yang sudah dipersiapkan menurut standar Sorga dan tinggal dalam kehendak Tuhan (baik dalam bisnis pilihan Tuhan maupun pelayanan). Saya tidak peduli dengan kebutuhan saya, tetapi saya mulai fokus kepada bagaimana saya bisa membantu murid-murid yang sedikit untuk dipersiapkan dengan maksimal dan melejit agar menjadi orang-orang yang memiliki roh luar biasa seperti Yusuf, Ester, Musa, dll.

 

Tidak dinyana, buku Menikmati Kemustahilan yang menjadi acuan dalam Kelas 101 Pemuridan KCC, dan Bimbingan Diskusi dalam buku tersebut rupanya menjadi penolong dalam mengembangkan manusia roh para murid, masih ditambah dengan diskusi pertanyaan yang ditimba dari kebutuhan masing-masing panggilan; seperti misalnya bagi seorang bisnismen, bagaimana bisa mengelak terhadap “dosa bisnis” seperti kompromi dan ketidakjujuran sedikit-sedikit yang memang menjadi makanan sehari-hari di dunia sekuler.

 

Setelah proses pemuridan sederhana ini ternyata menelurkan karakter-karakter yang berubah dan kuat, kami semakin yakin bahwa proses yang sedang dijalani bersama ini nantinya akan membawa dampak yang besar bagi kebutuhan bangsa kita; yaitu perombakan besar-besaran dalam segi moral, mental, karakter, kata-kata, dan taraf kehidupan alias finansial. Dalam arti, bahwa banyak sekali anak-anak Tuhan yang tidak tuntas menjalankan panggilannya, karena tidak tahu, tidak mengerti kebenaran, tidak ada yang membimbing, dan masih banyak ketidak-tidakan yang lain – yang mana untuk itulah KCC hadir menolong mereka untuk menjadi manusia utuh yang memenuhi tujuan Tuhan pada generasinya dengan tuntas seperti deklarasi Firman mengenai Raja Daud: Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya. (Sebab Daud menggenapi tujuan Allah pada generasinya) Kisah 13:36. Genap= tuntas menyelesaikan dengan sempurna tujuan Allah di dunia.

 

Jika Saudara sempat membuka web Maqdalene.Net di awal-awal peluncuran, Saudara melihat bagaimana saya menuturkan kisah Nicolaus Von Zinzendorf (untuk sementara kami angkat). Dari kisah Zinzendorf inilah “janin embrio” visi yang saya kandung tersentak, karena kehampirsamaan visi yang diembannya dengan visi yang Tuhan taruhkan dalam diri saya begitu mirip. Tidak lama kemudian, Tuhan menunjukkan another similar vision yaitu Xenos Community Center di Columbus, Ohio, US. Jadi, kedua similar visions ini ditunjukkan setelah saya kembali ke Indonesia, yaitu di atas tahun 2003. Dengan itu “kandungan” kehamilan visi saya semakin membengkak… tidak terasa 3 tahun berlalu sejak saya mengandung visi KCC tersebut.

 

Pada bulan Januari 2007 saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti conference di Maui, Hawaii, dan melihat gereja yang mirip community center – saya jepret-jepret untuk dikumpulkan dulu dan diberikan kepada Pak Enoch. Lalu pada bulan April, waktu saya diundang menjadi pembicara conference, saya mengambil kesempatan untuk berkunjung ke Xenos dan jepret sana sini lagi. Dari kesemua jenis ini (baik fokusnya, pengajarannya, tujuannya/pengaruh yang akan dibuat olehnya), tidak satu pun yang sama persis seperti benih yang Tuhan taruhkan dalam roh saya. Akhirnya saya yakin bahwa KCC ini nantinya merupakan pioneer dari mimpi Tuhan. Semakin hari saya semakin menyadari bahwa jika Tuhan mempunyai visi, Dia tidak akan mengukir sejarah yang sama dengan sebelumnya, selalu ada perbedaan untuk maksud yang berbeda, tetapi untuk tujuan yang sama, yaitu merebut jiwa-jiwa dari cengkeraman iblis untuk memperlebar teritori Kerajaan Sorga di bumssi.

 

Pada bulan Januari 2007 itu juga saya “dipaksa” untuk setting goal; karena visi yang Tuhan taruh dalam hati saya yaitu memang membangun gedung KCC, maka saya harus menetapkan kapan saya akan mulai membangun. My goodness, membangun gedung KCC? What a big dream! Membayangkan aja saya takut, apalagi memulainya! Tapi karena dalam conference saya “dipaksa” untuk setting goal, maka dengan iman saya menulis bahwa tahun 2008 saya akan mulai membangun (ternyata wadahnya dulu; lalu tahun 2010 tempatnya dalam bentuk masih miniaturnya – 9 lantai). Whew! Hallelujah!!!

 

Melewati bulan-bulan di tahun 2007, saya mengesampingkan goal itu, karena bagi saya terlalu jauh sekali untuk berpikir ke arah sana, saya hanya merealisasikan another “smaller” vision yang dulunya visi besar tetapi karena sudah beberapa kali dijalani, yaitu menerbitkan buku - maka ini menjadi lebih ringan dibanding dengan membangun gedung, I mean gedung, you know. Tetapi, dengan bertambahnya bulan, tanpa saya sadari embrio itu semakin membengkak dalam “perut roh” saya. Akhirnya pada akhir November saya meminta Pak Enoch Muljono Husodo, yaitu participant/murid dari Surabaya untuk mulai mendisain gambar gedungnya. Yang diminta untuk nggambar tentunya nanya: “Tanahnya seluas apa?” Seluas-luasnya, jawab kami. Tanpa ada tanahnya duluan, tanpa liat tanahnya, kami berjalan dengan iman.

 

Memang perhitungan Tuhan nggak pernah meleset, buktinya nggak tanggung-tanggung Tuhan sudah siapkan seorang interior graphic handal kita ini yang lulusan Jerman dengan predikat 10 besar designer terbaik di Indonesia yang bakal mencorat-coret gambar gedung KCC kita. Kami senantiasa mendoakannya agar urapan Aholiab dan Bezaleel turun atasnya (orang-orang yang dipanggil namanya langsung oleh Tuhan sendiri untuk membangun Kemah Suci di padang gurun lewat kepemimpinan Nabi Musa) – dan tepat sekali, sebelum Pak Enoch melihat contour tanahnya, Tuhan sudah menanamkan dalam hatinya bentuk yang tepat seperti yang ada disana, di tanah yang akan kita bangun.

 

Lalu pada awal Desember 2007, Team kami bertemu dengan anggota KCCS dalam rangka Seminar Berhasil Karena Iman untuk hamba-hamba Tuhan di Bali. Pada kesempatan itu, Rev. Amos Jayarathnam dari Singapore juga melayani KKR di Singaraja yangmana saya diberi kesempatan untuk interpret. Seusai acara-acara tersebut, Rev. Amos mendoakan team kami, dan satu persatu mereka dinubuatkan. Sedang saya sendiri sudah meminta agar Pak Amos tidak mendoakan saya lagi, karena saya sudah dinubuatkan kemarin hari. Herannya, waktu semua sudah dapat giliran, masih juga nabi ini beralih ke arah saya dan menumpangkan tangannya pada kepala saya. Di hadapan semua team kita baik dari Jakarta maupun Surabaya, waktu pertama kali dia membuka mulutnya, dia berkata: “Aku melihat tanah (land), juga alat-alat (equipments), training center (pusat pelatihan), jaringan ministry luar negeri yang akan berjejaring dengan pelayanan ini, Tuhan akan mulai memberkatimu di bidang finansial, pelayanan ini akan meluas menjadi semi internasional.”

 

Waktu beliau berkata “tanah”, tubuh saya melonjak kaget sampai kepala saya mengenai tangannya; saya ingat waktu janin Yohanes Pembaptis melonjak gara-gara disapa ibu Yesus – seperti itulah kira-kira yang terjadi, “janin visi” saya yang sudah besar itu kini sudah diambang pintu, pintunya udah buka 7…. Pada waktu mendengar nubuatan itulah Team kami semakin mantap dengan visi yang saya emban, bahwa memang ini adalah visinya Tuhan dan Dia mau agar gedung ini sesegera mungkin terealisasi.

3 hari kemudian saya tiba di Jakarta, dan merasakan dorongan yang kuat untuk berdoa dan menyembah dengan team saya. Pada waktu saya berdoa, tiba-tiba di hati saya muncul kata Sentul. Saya juga heran, karena tidak memikirkan daerah Sentul sebelumnya dan tidak ingin mengada-ada seolah-olah saya sedang cari-cari tanah. Tapi sesegera saya mendapatkan kesan roh akan kata Sentul sebagai tanah yang Tuhan tunjukkan di hati saya untuk didirikannya gedung KCC, maka saya buka mata dan menyampaikannya kepada Team Kingdom.

 

Waktu saya mendeklarasi kata Sentul, Team saya segera ingat bahwa dulu ada seorang notaris yang diminta untuk menjualkan tanah orang di Sentul. Maka mereka segera menghubungi orang tersebut dan 2 hari kemudian Team Kingdom dan participant KCCS yang terbang hari itu juga dari Surabaya dan langsung tiba di Sentul (sayangnya tanah-tanah yang ditunjukkan kepada kami saat itu tidak bersertifikat, hanya tanah garapan. Jadi kami menantikan kehendak Tuhan untuk tanah lain yang tepat supaya di kemudian hari tidak bermasalah). Tidak lama kemudian, seorang polisi bernama Pak Manto menghubungi Pak Simon, dan Team kami ber-empat diantar untuk melihat lokasi lain di Sentul juga yang lebih bagus dan rasanya lebih tepat dari yang sebelumnya. Kami mengambil secuplik tanahnya, dibawa pulang dan dibubuhi minyak urapan untuk didoakan. Tanahnya seluas 3 hektar dan 7 hektar. Tuhan, inikah tanah yang Kau maksud?

 

 

 

PEMBANGUNAN PROYEK KCC

 

Ngomong-ngomong tentang tanah ini, merencanakannya, kemudian membangunnya, - sampai hari ini kami belum bertemu dengan pemiliknya. Kami masih mendoakan, tetapi kami yakin kami harus segera memberitahukan visi ini kepada para participant yang sudah berjalan bersama kami melewati tahun-tahun atau bulan-bulan bersama untuk melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan di negeri kita.

 

Waktu saya mengajar di KCCS (Kingdom Community Center Surabaya), dan membawakan topik luar biasa mengenai rahasia benih, ada tanggapan yang luar biasa dari para murid. Mereka langsung mengumpulkan uang dan menyerahkan amplopnya kepada saya, yang kemudian saya serahkan kepada ketua panitia pembangunan gedung KCC, Pak Simon. Setelah itu, beberapa orang dari KCCJ juga tergerak untuk memberikan apa yang disebut QORBAN untuk menggenapi visi Tuhan ini. Saya sendiri, dengan sukacita besar telah menyerahkan seluruh deposito saya yang tidak seberapa (yang adalah 69% dari seluruh harta saya – bukan 69% dari penghasilan bulan itu) ditambah saya menyerahkan hampir seluruh barang-barang emas yang saya miliki untuk proyek besar ini, termasuk cincin berlian gift dari pelayanan. Saya excited hidup dengan cara ini, kapan lagi kalau nggak sekarang saya berlari dengan visi dan mempercayai Tuhan sepenuhnya? Saya yakin bahwa Dia akan kembali melakukan perkara-perkara yang jauh lebih besar. Ini merupakan kesempatan besar bagi Saudara untuk join iman bersama saya dalam proyek Tuhan bagi Indonesia ini, karena lewat ini Tuhan akan melambungkan iman Saudara dan memaksimalkan kapasitas Saudara besar-besaran untuk turut berpartisipasi bagi keselamatan bangsa-bangsa.

 

Ini merupakan rahasia besar. Jika motto dunia mengatakan bahwa: hemat pangkal kaya; tetapi saya bertaruh pada kebenaran Firman Tuhan yang mengatakan: berilah maka kamu akan diberi. Jadi, untuk menjadi kaya/diberi harta harus memberi dulu - tidak ada jalan lain. Saya boleh memilih kapan saja melakukan Firman dengan kepercayaan hati secara total: now, later or never. Saya boleh menguji kebenaran janji itu kapan saja, kalau saya melaksanakannya dengan cepat, maka dengan cepat pula janji itu teruji. Kalau di dunia ini saya tidak pernah mengujinya karena saya takut kehilangan uang dan takut Tuhan cuman omong kosong, maka saya rugi dunia-akherat; saya rugi tidak pernah mengalami apa yang disebut Kristen tulen. Saat ini, saya mendapatkan kesempatan lagi untuk menyerahkan “ishak” saya di altar, dan tidak ada kekuatiran sedikit pun, karena saya sudah membuktikan khasiat dari pemenuhan janji itu.

 

Sedikit mengulas apa yang telah terbukti: pada waktu saya pertama kali hendak menerbitkan buku Berhasil Karena Iman, saya menyerahkan seluruh, yes, seluruh uang saya tanpa memperdulikan besok makan apa dan bagaimana membayar semua kebutuhan bulan depan. Tapi ajaib, Tuhan tidak pernah menipu, malam itu juga ada seseorang dari luar negeri menelepon saya dan mengatakan bahwa dia telah transfer 3 hari sebelumnya dan minta saya mengecek uang itu di bank apakah sudah cair.

 

Waktu saya menyerahkan uang saya, -- saya menuai uang (sebagaimana jika kita menabur benih durian maka akan tumbuh buah durian); waktu saya menyerahkan hidup saya (karena saya datang ke Indonesia dengan penyerahan total), dan bahkan menyerahkan uang seluruhnya merupakan penyerahan nyawa yang tidak takut mati besok bagaimana dan makan apa), -- saya juga memperoleh nyawa, yaitu jiwa-jiwa. Melalui buku BKI banyak sekali orang-orang telah menerima Kristus dan pertolongan dalam banyak hal terjadi dimana-mana. Saya menyadari ternyata jika saya menabur, saya pasti menuai, tepat seperti kata Firman. Jika saya menabur uang, saya memperoleh buah uang. Ini merupakan sistim tabur tuai yang sangat lazim, tetapi banyak anak-anak Tuhan takut untuk menabur, mereka maunya langsung doa penuaian, pelipatgandaan berkat, berkat, berkat. Dan itu tidak akan terjadi! Semakin banyak kita menabur dengan kerelaan, semakin banyak pula tuaian yang disediakan bagi kita.

 

Saya mulai menganut faham “percaya mati” dalam hal iman. Maksudnya begini, kita khan sudah jadi orang Kristen, kita sudah menjalankan Amanat Tuhan, dan kita mau hidup dengan cara Sorga, tentunya kita nggak mau ½ ½, kita mau total-totalan. Waktu Tuhan bilang A, saya mau percaya buta, terjun bebas, sudah terlanjur jadi Kristen saya nggak mau ½ ½, saya mau jihad, taat abis – jika aku harus mati, biarlah aku mati. Ini yang saya sebut percaya mati, total ber-iman.

 

TAPI, “percaya mati” ini bukan gila-gilaan kehilangan segalanya waktu ikut Kristus. Bagi Anda yang belum menonton VCD khotbah saya yang berjudul “Qualitas Kekristenan Zejati”, Anda akan melihat bagaimana tipe murid dan syarat apa yang ditentukan Tuhan untuk menjadi murid. Nah, disana saya memberikan contoh luar biasa mengenai seorang perempuan bernama Rut, dia berkorban memberikan hidupnya kepada mertuanya walaupun dia tahu orang yang diikutinya ini tidak akan memberikan apa-apa kepadanya. Ini namanya kasih agape. Pada waktu Rut berkata: dimana engkau pergi aku pergi, dimana engkau dikubur disitu aku dikubur, Allahmu adalah Allahku – itu adalah titik pengorbanan yang dibenaknya tidak mungkin mengharapkan imbalan dari mertua miskin. Tapi jangan lupa, karena Rut menyerahkan “hidupnya”, dia mendapatkan “hidup” (orang/suami) plus kekayaan besar, dia dikawini bos kaya bernama Boas dan akhirnya mereka menurunkan cucu bernama Daud yang menjadi raja Israel, yang olehnya menurunkan garis Mesias. Intinya, “percaya mati” ini, waktu saya total-totalan menyerahkan harta saya kepada Tuhan, kalau menurut hitungan dunia khan kita bangkrut, abis, jadi nggak punya apa-apa – wait, itu pikiran yang keliru. Justru pada waktu saya terjun bebas, ternyata Tuhan mengembalikan tuaian dengan limpah. Seperti Rut, pada waktu dia dengan motivasi yang murni mengabdikan hidupnya untuk tidak beroleh imbalan, ternyata Tuhan mengembalikan imbalan plus plus. (pada surat-surat mendatang saya akan buktikan banyak kisah mengenai kebenaran ini)

 

Pada waktu Tuhan mulai meminta saya untuk membangun gedung KCC ini, saya gantian minta agar Tuhan berjanji kepada saya bahwa selama masa pembangunan ini, jangan biarkan kami sampai kekurangan dana sehingga saya harus nagging or memberi kesan meminta-minta kepada para participant atau siapa saja, karena itu sangat bertentangan dengan apa yang saya ajarkan dimana-mana dan sebagai hamba saya akan memalukan Tuhan. Saya hanya akan membeberkan rencana Tuhan ini kepada participant yang setia, sebagaimana Nabi Musa membeberkan rencana Tuhan untuk membangun kemah Suci di padang gurun kepada umat Israel, maka rakyat yang hatinya digerakkan Tuhan datang berbondong-bondong memberikan persembahan hari demi hari, sampai berkelimpahan sampai Musa harus menyetop mereka karena kebutuhan sudah lebih dari cukup.

 

Jadi pada waktu saya sharing visi kepada Saudara seperti ini, Tuhan mau memberkati Saudara dan mengembangkan kapasitas iman dan berkat Saudara secara limpah. Tetapi itu harus dimulai dengan menabur benih, ingat khan: berilah, maka kamu akan diberi? Ini adalah proses menuju berkat yang besar agar Saudara menggenapi rencana Tuhan di bumi melalui keuangan yang akan dipercayakan kepada Saudara. Semakin Saudara memberi, semakin Saudara akan menuai dengan berlimpah-limpah. Semakin Saudara mempercayai kebenaran Firman tersebut, Saudara akan dipercaya untuk mengelola keuangan bangsa-bangsa yang akan dilimpahkan Tuhan kepadamu. Ini bukan iming-iming atau pancingan, tetapi ini janji Firman. Hal ini kami tulis bukan lahir dari “kebutuhan”, tetapi lebih condong dari sisi tanggapan ketaatan Saudara, untuk pemaksimalan berkat yang akan Saudara terima, yaitu berkat bangsa-bangsa. (Silakan ulangi lagi menonton VCD persembahan Natal 2006 “Menjadi Terang Dunia” yang judulnya telah diubah menjadi “Memperoleh Berkat Bangsa-Bangsa”)

 

Saya bertekad untuk TIDAK memanipulasi, iming-iming, intimidasi, rekayasa dengan Firman supaya Saudara menabur benih pada proyek Tuhan ini. Jika terjadi demikian, biarlah saya tidak dipercaya menjadi hamba-Nya selamanya dan biarlah proyek ini jatuh kepada orang yang lebih dapat dipercaya Sorga.

 

Ini adalah proyeknya Tuhan, dan saya tidak akan “membantu” Tuhan untuk mencari uang guna berdirinya gedung itu. Dia akan memakai cara-Nya sendiri tanpa saya harus mengemis sambil menangis seolah-olah ini adalah “beban” yang harus saya pikul seutuhnya. Let us not forget, Tuhan tidak membutuhkan “uang” kita, Dia nggak butuh uang saya yang “nggak ada artinya” di mata Dia, tapi Dia ingin melihat kerelaan hati, ketaatan akan gerakan Roh Kudus dalam hati, yaitu respon iman kita lewat uang kita. Ingat khan, bahwa Dia sanggup menggunakan gagak untuk mengirim steak n’ bread kepada nabi Elia? Bukankah Dia sanggup mengubah air jadi anggur (tentunya Dia juga sanggup mengubah apa saja jadi uang kalau memang harus), Dia juga sanggup menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk makan 5000 pria dan masih sisa 12 keranjang. Dia juga bisa ngubah batu jadi roti (kalau nggak bisa ngapain iblis mencobai hal yang dia tahu impossible?); Dia juga bisa nyuruh batu berteriak “hosana” menggantikan suara orang-orang jika mereka tidak mau memuliakan Dia. Apalagi? Masih butuh bukti hal-hal mustahil yang dapat dijadikan-Nya? Bagaimana dengan keledai yang buka mulut untuk memperingati nabi, bagaimana dengan uang yang ditemukan di mulut ikan? Masih banyak hal-hal mustahil yang kontemporer dan yang sangat kreatif penerapannya sesuai dengan perkembangan jaman, seperti pelipatgandaan gas dan beras. Ini membutuhkan “iman buta” atau “percaya mati”.

 

Sebagai pemimpin yang dipanggil Tuhan untuk mengemban proyek besar bagi generasi kita ini, saya hanya menjabat sebagai wakil Tuhan – seperti halnya Musa dan Nuh waktu diminta untuk membangun proyek Tuhan di jamannya.

 

  1. Musa -- membeberkan plan proyek Kemah Suci – rakyat meresponi -- sampai berkelebihan -- gantinya, mereka diberkati dengan jarahan yang sangat berlimpah jauh melebihi apa yang mereka telah persembahkan guna membangun Kemah Suci.

  2. Nuh -- membeberkan plan proyek pembangunan Bahtera -- rakyat menertawakan, tidak meresponi bahkan mencemooh -- akibatnya mereka tenggelam dalam air bah.

 

Ini bukan contoh firman intimidasi, tetapi ini contoh tanggapan rakyat masing-masing di tiap generasi terhadap proyek Tuhan. Kami berdoa agar melalui plan proyek pembangunan gedung KCC ini, tiap orang yang menanggapi akan memperoleh kapasitas yang maksimal dalam usaha masing-masing sesuai dengan janji yang Tuhan taruhkan dalam hati saya. Kami sudah melihat bagaimana beberapa murid KCC teritorinya diperlebar sampai ke luar negeri, dan dalam waktu singkat proyeknya mencapai milyaran rupiah.

 

Kami juga sama menghargainya kepada orang-orang yang belum digerakkan untuk menabur bagi proyek ini. Kami sangat yakin bahwa hanya Tuhan saja yang sanggup menjamah hati, bukan kata-kata kami, atau cara-cara tidak benar yang menggelitik. Kami sangat percaya bahwa segala hal diatur oleh Tuhan, jadi kami tidak pusing dengan ada tidaknya uang, memberi atau tidak memberinya orang, sedikit atau banyaknya pemberian. Kami hanya memohon bagi Saudara yang saat ini belum digerakkan untuk menanggapi, hendaknya tidak mengeluarkan kata negatif agar Saudara juga tetap diberkati; kami juga sarankan agar tidak membeberkan kepada orang lain dengan nada mempertanyakan - tetapi doakanlah kami. Karena ini bukan visinya Maqdalene, ini visi Tuhan, saya hanya wakil suara Tuhan untuk didengungkan kepada orang-orang yang hatinya digerakkan. Tidak semua orang yang mendapatkan visi menyukainya, karena ia harus keluar dari zona kenyamanan, dan untuk itu dapat “merusak” sistim kebaikan, kenyamanan, kemanisan, dan berubah menjadi pertanyaan, kecurigaan, kesalahfahaman. Saya sendiri bersyukur mendapatkan visi yang besar ini, karena saya tahu siapa Orang di balik proyek besar ini, dan untuk apa KCC ini berdiri, yaitu untuk kepentingan dan kebaikan bangsa kita Indonesia di segala bidang.

 

Dalam kaitannya dengan memenuhi visi Tuhan bagi Indonesia ini, saya menelusuri beberapa gelintir pemimpin besar yang Tuhan pakai baik dalam sejarah Kekristenan, maupun di dunia sekuler. Kita tahu bahwa Nabi Musa menjadi orang yang luar biasa di mata Tuhan karena ia rela mati bagi bangsanya; ia bahkan berkata kepada Tuhan Coretlah namaku dari buku kehidupan, asalkan bangsa yang tegar tengkuk ini Kauselamatkan”. Bukankah roh yang dimilikinya adalah roh yang luar biasa? Roh rela berkorban, roh kerendahan hati, berjiwa besar. Ratu Ester juga berani berkata: “Jikalau aku harus mati, biarlah aku mati” – dan itu dilakukan untuk kepentingan bangsanya. Nehemia, rela meninggalkan comfort zone untuk membangun tembok kota negerinya supaya masyarakatnya tidak mendapat cela dan hidup mereka sejahtera.

 

Jenderal Amerika H. Norman Schwarzkopt, atau Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, George Washington, dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya; di balik nama seorang pemimpin yang besar selalu ada satu pengorbanan yang besar pula. Kebesaran seseorang selalu ada harganya. Untuk menjadi seorang yang besar, dibutuhkan kebesaran jiwa untuk tidak melihat kepada diri sendiri, tetapi melihat kepada apa yang dapat kita berikan kepada orang lain, kepada keluarga, kepada bangsa, kepada sesama, kepada Tuhan.

 

Firman Tuhan sudah menunjukkan peta kehidupan terbesar bagi kita:

 

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan

nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,

ia akan memperolehnya. (Matius 16:25)

 

Prinsip yang tertulis dalam Firman Tuhan telah terbukti lewat orang-orang awam yang berani merelakan hidupnya bagi bangsanya, mereka memperolehnya kembali berlipat kali ganda. Kiranya kebenaran kekal ini menjadi pilihan yang akan menentukan kebesaran Anda di masa yang akan datang. Mulailah hari ini.


 

Tanah di Sentul:

 

- Untuk yang 7 hektar (penawaran sementara per meter persegi Rp. 140.000,-)

Jika 7 hektar menjadi Rp. 100.000 per meter perseginya, berarti 7 M. Tapi saya mengimani, mereka akan menjualnya kepada kita hanya seharga 3 M saja. Tanah 7 hektar memang luas sekali, tapi dalam perjalanan “mengandung” visi ini, Tuhan menunjukkan kepada saya visi-visi besar yang menyangkut tanah yang luas (seperti Resort di Bali, yaitu Bali Handara, dan visi Oral Roberts dalam membangun ORU dan Medical Faith Center sebesar lebih dari 160 hektar). Jadi sebenarnya 7 hektar sangat kecil untuk menutup semua kerinduan Tuhan dalam membangun fasilitas-fasiltas di atasnya.

 

Entah bagaimana nantinya cara kerja Tuhan, tetapi kita percaya bahwa Dia akan menyediakan semua kebutuhan dana yang kita akan pakai guna terbelinya tanah tersebut. Entah bagaimana, namun mata saya sekarang suka memperhatikan gedung-gedung tinggi dan proyek-proyek besar buatan manusia yang harga lahannya per meter perseginya sudah jutaan rupiah dimana mereka membangun mall, hotel, resort, dsb – nyatanya mereka membangun dengan mudah. Apalagi ini proyeknya Tuhan, masih di daerah yang tanahnya per meter perseginya ratusan ribu saja – apa terlalu sulit bagi Tuhan? Ini uang kecil, perkara kecil – hanya saja kita harus mengembangkan iman kita bersama Dia yang mampu melakukan proyek-proyek besar. Bukankah langit bumi ini kepunyaan-Nya, dan Dialah Pemilik tanah dan Penentu batas-batas tanah? (Kisah 17:26; Imamat 25:23)

 

 

 

 

 

Foto tanah dimana gedung KCC akan segera dibangun, Haleluya!

 

 

 

 

Uang yang sudah terkumpul:

January 23, 2008
Tunai Rp. 11.240.500,-

Surat deposito Rp. 53.000.000,-

 

 

By Faith,

Maqdalene Kawotjo & Seluruh Kingdom Team

 

 

Design KCC