Maqdalene

Duta Besar Sentul

SURAT – 3


 

LAPORAN PERKEMBANGAN PROYEK KCC

 

Waktu yang ditetapkan untuk pembelian tanah di Sentul sudah semakin dekat, tapi waktu itu sepertinya belum ada tanda-tanda kami harus maju. Kalau saya tanya kepada ketua Panitia pembangunan KCC, dia hanya bilang bahwa calo-nya susah ditemui, dan belum-belum sudah mau minta uang persenan dia, padahal nego juga belum, ketemu pemilik (lama) juga belum.

 

Jadi bulan lalu, saya beserta tim berempat berangkat ke lokasi, berjalan keliling tanah yang 7 hektar itu sambil berdoa memperkatakan iman dan memerintahkan tanah. Malamnya saya berpikir kalau besok ada orang tanya kami sedang ngapain dan siapa, saya akan jawab saya adalah pemilik (baru) tanah ini. Betul juga, waktu kami sudah naik turun tanah yang luas itu, dan waktu “tersesat” mau cari jalan ke atas, seorang ibu menunjukkan jalan kepada kami dan bertanya: Pemilik tanah ini ya?” Dengan keyakinan saya jawab “YA!” Dalam alam roh saya sudah jadi pemilik sah khan? Ow, yes!

 

Pada waktu kami mengadakan pelayanan ke Tual, salah satu tim kami seorang business woman yang belum tahu menahu mengenai visi KCC bermimpi; entah bermimpi entah setengah sadar ia mendapat penglihatan. Dalam penglihatannya dia melihat Maq mengandung besarrrr sekali. Lalu dia bertanya sama Tuhan, “Tuhan, bukankah Sis Maq belum punya suami?” Tuhan berkata, “Bukan itu maksud-Ku, dia sedang mengandung visi-Ku yang besar dan kandungannya saat ini sudah sangat besar.” Dalam penglihatannya, dikatakannya saya sedang jalan dengan langkah keberatan dan pegangin pinggang macam orang hamil yang sudah hampir melahirkan, jalannya terseok-seok, punggungnya kesakitan karena beban besar di perut.

 

Setelah ada kesempatan sedikit di bandara, saya mengutarakan visi besar yang sedang saya kandung tersebut, dan sepanjang saya bercerita dia geleng-geleng kepala berkali-kali. Dia tahu ini visi Tuhan, dan jika Tuhan pun secara tidak pernah sengaja memberikan mimpi atau penglihatan kepada seseorang, tentunya Tuhan mau agar orang tersebut mengambil bagian/terlibat di dalamnya sampai melihat visi ini tergenapi. Dengan mengatakan semua pengalamannya selama mengikuti seminar yang saya bawakan dan bagaimana selama itu Tuhan bekerja dengan luar biasa, dia tahu ini dari Tuhan. Dia berkata bahwa selama ini bertemu dengan banyak hamba Tuhan, dan baru kali ini Tuhan mau agar dia belajar dari saya. Dan sejak itu dia menganggap dan meminta saya menjadi gurunya.

 

Pada kesempatan yang sama juga saya dipertemukan dengan seorang businessman yang cinta Tuhan, dan dia berkata bahwa Tuhan menyuruhnya belajar dari saya. Saya bertanya apa nggak kebalik, Pak? Dia bilang aturannya memang begitu, kalau Tuhan sendiri udah ngomong, dia nggak pernah akan melanggar. Dia taat banget sama Tuhan, kelihatannya sepanjang masih dini saya tahu dia, hampir dalam segala perkara taat, perkara kecil besar.

 

Herannya lagi, beberapa bulan sebelumnya saya dipertemukan dengan seorang dokter perempuan. Suatu kali, dia mendapatkan mimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang hamba Tuhan berada di bawahnya (entah “bawah” apa maksudnya, tapi waktu mendengar kisah selanjutnya mungkin saya bisa agak nangkep bahwa ini kayak model level-levelan dalam alam roh di Sorga nyata nantinya). Yang dia heran, padahal hamba Tuhan tersebut katham isi Alkitab, pengajarannya menyingkap-nyingkap pengetahuan firman, huebat. Tapi kok dia berada di “bawah”, tanyanya dalam hati. Lalu, masih dalam mimpinya yang sangat jelas sekali itu dia dibimbing untuk mendongak ke atas, dan disana dia melihat Maq, kisahnya. Tuhan bilang bahwa dia disuruh belajar dari Maqdalene. Dengan mengikuti petunjuk mimpi itu, dia memesan semua, seluruh produk kami. Dia pelajari, baca, setel, berulang-ulang.

 

Dalam pemikiran saya yang terdalam saya bertanya-tanya apa arti dari semua ini? Mengapa orang-orang “besar” seperti mereka dibawa kepada saya dan dipaksa Tuhan harus meguru kepada saya? Masing-masing punya gembala dan mereka orang yang setia dan sangat vokal di gerejanya. Masih termangu-mangu dan juga masih memikirkan bagaimana visi proyek KCC ini nanti? Sedangkan waktunya sudah hampir dekat dengan target pembelian tanah, karena target digging the ground-nya yaitu bulan Oktober tahun ini juga! (thank you for praying)

 

Sambil bertanya dalam hati, di kedalaman sana saya ada sedikit kerinduan agar Tuhan mengkonfirmasi rencana-Nya lagi. Tapi saya tidak berani mengungkapkan isi hati saya, saya sudah yakin dengan rencana visi besar Tuhan mengenai KCC ini, hanya saja memang kalau orang sedang ngandung besar itu berasa kayak-kayaknya mau ngeluarin janin, padahal mungkin harus nunggu sampai air ketuban pecah dulu baru ketahuan apakah anak itu akan nongol. (saya ingat ada istilah Aldino kepanjangan dari Alhamdulilah Dia Nongol. Maaf nggak ada hubungannya, just intermezzo, nanti kalau tuh “anak” nongol saya nggak akan bilang alhamdulilah, tapi hallelujah puji Tuhan!).

 

Anyway, salah satu pengusaha yang di kisah kedua itu siap banget bantu apa pun, dia udah nggak sabar, harus segera bertindak cepat. Jadi dia bingung, dia dateng ke saya dan bertanya gimana ini? Apa yang harus saya lakukan, tanyanya. Saya juga masih belum tahu, kayak-kayaknya sih memang udah harus segera, tapi kok belum ada sinyal kenceng dari Tuhan, jadi saya nunggu Tuhan aja. Dia sih udah nggak sabar, tapi dia bilang harus nunggu komandan Maq. Wah, saya yang pantas jadi anaknya malah kayak kebakaran jenggot karena ditungguin perintahnya kok malah belum pasti gimana nentuin waktunya dan apa yang harus dilakukan (untung nggak punya jenggot, jadi dipakai istilahnya nggak perlu merasa bersalah!). Saya? Kalau nggak ada dorongan dari Atasan juga akan diem-diem dulu. Ya mikir sih, tapi mau gimana lagi, wong hamba!

 

Dalam hati saya yang terdalam ada sedikit kerinduan untuk konfirmasi lagi akan kehendak Tuhan, tapi saya takut keluarin pendapat hati ke Tuhan again. Jadi saya berdoa setiap hari, tersungkur di kaki Tuhan, cari wajah-Nya, gitu aja tanpa meminta lagi.

 

Temen saya yang dokter tadi khan punya villa di Sentul, dia sudah ngajak saya untuk doa disana berkali-kali, tapi saya masih belum bisa nyetak waktu. Saya tahu suatu waktu saya juga harus ritrit dari semua kesibukan dan pelayanan, maka tanggal 18-20 April di sela-sela sesudah dan sebelum pelayanan lagi, saya bisa atur jadwal untuk semedi. Jadi kami berangkat, berlima, sang dokter, saya, dengan 3 pegawainya, a-l-l-l-l hawa. Saya memang sengaja belum sharing visi Sentul ini kepada dokter, walaupun dia udah banyak berbicara mengenai villanya di Sentul. Sentul, bukankah so familiar namanya? Yeah, tapi hebatnya saya itu punya pengendalian diri cukup baik, weleh-weleh..puji Tuhan. Jadi sesudah sekian lama kami berkenalan, baru malam itu waktu kami tiba, sambil duduk di teras atas sambil lihat mountain view dengan hawa pegunungan, kami masuk dalam perbincangan, dan saya membukakan visi proyek kita ini – istilahnya nunjukin perut visi saya yang amit-amit buncitnya. Tidak terlalu terperanjat gimana, tapi dia tertarik untuk melihat tanahnya. (Yah, soal reaksi sih masalah temperamen, dia bukan sanguine, jadi kalau denger hal-hal baru nggak loncat-loncat kayak balita, tapi dipendamnya dalam hati dan didoakan dengan iman – kayak Maria Ibu Yesus, kali).

 

Kebetulan besoknya tetangganya yang juga anak Tuhan dan cinta Tuhan bergabung bersama kami, berkelok-kelok kami menuju the site. Mereka sendiri yang punya rumah-rumah di Sentul nggak pernah tahu ada jalan yang menanjak naik ke sana dan ada tanah lapang yang lokasinya menurut mereka pas banget, paling pojok dan strategis. Sip, pikir saya, kalau menurut pandangan mereka bahwa itu cocok dan tepat juga. Setelah beberapa saat sambil saya ceritain visi Tuhan sejak 4 tahun lalu, salah satu ibu yang ikut kami bulu tengkuknya berdiri, dia bilang dahsyat bangettt! Akhirnya saya minta ibu dokter untuk berdoa bagi tanah ini. Waktu berdoa, dalam alam roh dia melihat pelangi yang cahayanya menakjubkan, indah sekali di atas area lahan tanah itu. Dia bilang bahwa memang ini pasti terjadi, dan ini sudah dekat sekali, segera rencana Tuhan akan terlaksana. Amin!

 

Ini mungkin sedikit pencerahan di hati saya yang sedang mengandung visi besar yang udah di ambang pintu mau nongol (Haldino aja deh=Haleluya dia nongol). Ternyata Tuhan itu mengamati sekecil-kecilnya kerinduan manusia. Bu dokter nanya saya apa artinya pelangi; saya bilang bahwa pelangi itu adalah Perjanjian baru. Jadi di tempat ini, sekali lagi Tuhan menyatakan perjanjian-Nya kepada saya bahwa benar, Dia akan membangun proyek-Nya di atas tanah itu. Puji Tuhan, saya bersyukur bahwa Tuhan menyatakannya sekali lagi, meneguhkan hati saya untuk move on dengan visi-Nya. Wellll, ternyata pelangi itu belum apa-apa terhadap apa yang Dia lakukan lewat kisah mimpi berikut ini.

 

Besoknya kami berdoa puasa bersama, ber-5, keturunan Cik Wawa (Ibu Hawa), dan setelah selesai, beberes, kami meluncur menuju Jakarta. Dalam beberapa lemparan batu laju perjalanan, salah satu pegawai bu dokter memulai perbincangan: Bu Maqdalene, saya mau berbagi ya. “Silakan,” jawab saya kalem seperti biasanya (yeah). Tadi malam saya bermimpi, dalam mimpi itu saya melihat Ibu Maq cantik sekali dengan rambut dan gaun yang sangat indah. Ternyata saya melihat bahwa itu adalah pelantikan Ibu Maq, Ibu diangkat jadi Duta Besar Sentul. Banyak orang datang, di antaranya saya melihat ibu-ibu dokter (majikan-majikan dia) yang ikut membantu dan mengikuti jalannya acara pelantikan.

 

Hati saya langsung melonjak, dan yang paling nggak kalah lagi adalah temen saya dokter tersebut. Dia kayaknya lebih antusias dibanding saya (kenampakannya aja sih, padahal saya juga rasanya pingin menyusup di mimpi acara pelantikan itu, pingin tahu semuanya!). Ibu dokter yang bukan tipe sanguine, sekarang justru memperlihatkan girasnya sambil bertanya ke pegawainya dengan detil dengan getar penuh keinginan tahu: acaranya dimana, rambutnya model begimana, lalu yang melantik kamu tahu nggak orangnya, di bukit atau daerah datar, lalu berapa orang yang hadir, acaranya apa aja…wah pokoknya di dalem mobil suasana jadi seru, sumringah. Saya heran nggak abis-abis. Si anak yang dikasih mimpi ini bertanya sama saya: Ibu Maq, apa sih artinya duta besar? Saya kadang liat di TV, tapi arti dalam atau lebarnya duta besar saya nggak tahu.

 

Pertama saya harus menegaskan kepadanya bahwa mimpinya merupakan peneguhan visi Tuhan kepada saya. Dia sama sekali tidak tahu menahu, dia tidak diajak berbincang-bincang, dia sedang main badminton saat kami ke lokasi, dia juga sama sekali tidak ada hubungannya dengan kisah atau sharing visi saya kepada majikannya. Jadi ini bener-bener mimpi murni dari Tuhan, dan Tuhan pakai seorang yang ‘tidak pernah masuk hitungan manusia’ untuk menyajikan warta Sorga, bayangkan! Saya dibuat kagum, don’t you? Trus saya menjelaskan arti duta besar. Dalam buku-buku dan khotbah-khotbah saya seringkali saya menerangkan bahwa saya ini DUTA atau AMBASSADOR SORGA. Pekerjaan saya adalah sebagai wakil Sorga yang menyatakan/ menegaskan/ mewartakan/ mengumandangkan/menyerukan peraturan, perintah, hukum mengenai cara hidup Sorga kepada warga Sorga yang hidup di planet asing ini - dunia. Saya memang juga warga Sorga, pemegang paspor Sorga, tapi posisi saya bukan sekedar citizen biasa, tapi saya dipilih jadi Duta Besarnya Tuhan. Saya menjelaskan ini bertalian dengan penjelasan saya mengenai Kedutaan Amerika yang deket Monas, atau kedutaan Indonesia di luar negeri.

 

Pernyataan yang saya dengar memang agak sedikit minor, dalam arti kayaknya mimpi atau istilah yang dijabarkan dalam mimpinya mungkin tidak ditangkap sepenuhnya dengan ketepatan terjemahan. Saya yakin yang dia lihat dalam mimpi bukan bener-bener leterlek “Duta Besar Sentul”, tapi jika mungkin boleh saya terjemahkan, saya menatanya sebagai berikut: Saya dilantik menjadi Duta Besar Kerajaan Sorga dimana Sentul merupakan base pusat yangmana nantinya dari sana akan mengumandangkan ketetapan-ketetapan Sorga. Si anak sendiri sih nggak akan bisa terjemahin dengan bahasa yang saya ngerti secara roh, tapi intinya saya nangkep – Tuhan sudah menetapkan saya untuk membangun Kingdom Base di Sentul, dan saya dilantik, tentunya oleh Yesus sendiri sebagai Pengutus yang kedudukannya di atas saya. WoW, amazing … cara Tuhan meneguhkan kepada saya dan kita semua bahwa ini memang proyeknya Tuhan, dan memang di tanah Sentul itulah Dia mau itu jadi; yang dengan iman saya beberkan kepada Saudara Participant setia – disanalah Tuhan akan membangun salah satu dari sekian banyak di dunia ini: base training Kerajaan Sorga.

 

Arti dari mimpi Duta Besar Sentul (DBS) itu sendiri sangatlah luas, sudah menjawab dan mewakili semua pertanyaan yang dipecah-pecah dari banyak bagian di kepala saya. Maksudnya DBS itu sudah menjawab: apa udah pasti bener sih Tuhan mau saya bangun KCC di Sentul? Nah, udah kejawab khan dengan adanya mimpi DBS. Udah pasti, sebab kau ditetapkan jadi Duta, dan tempat yang Tuhan tunjuk jelas di Sentul. Tanya apa lagi? OK, itu juga sudah menjawab pertanyaan berikutnya: Tuhan, kok uangnya nggak nongol-nongol, lalu ketemu pemiliknya aja susah banget, lalu siapa yang tolong nego-in, gimana cara negonya, gimana mulainya, gimana nyelidiki sertifikatnya, gimana ijin bangunannya, siapa ahli hukumnya, dsb. Itu sudah kejawab oleh satu mimpi hebat DBS itu! Kalau udah ditetapkan dan dilantik disana secara alam roh, tentunya semua proses nantinya akan berjalan mulus – hanya tinggal jalanin aja step-by-stepnya sesuai Perintah Bos.

 

Pada dasarnya, apa yang terjadi di alam nyata adalah hasil dari kemenangan di alam roh. Ini udah sering saya katakan atau tulis di buku khan, jadi jangan ada yang lupa yah, karena penting bagi perjalanan iman Saudara. Jadi, kalau di alam roh kenyataannya Tuhan sudah men-declare, tentunya yang alam nyata cuman pelaksanaannya aja, tho?!

 

Ck, ck, ck….saya kagum ama Tuhan, nyiptain satu mimpi untuk menjawab semua pertanyaan kegalauan hati saya yang terdalam. So, sudah cukup jo, Tuhan, saya nggak perlu lagi gentar menghadapi visi ke depan. Tuhan udah tetapkan kok, Dia sudah lantik juga. Dan ingat, apa yang jadi di alam nyata semua didahului dengan yang sudah pasti di alam roh. Secara alam roh Tuhan sudah bilang: DONE! Selesai! Ya udah, pasti jadi, Amin! Thank You, Lord.

 

 

MEETING

Baru pertengahan bulan ini, Tim Pembangunan KCC sudah bertemu dengan broker yang dipercaya pemilik tanah (lama) untuk negosiasi harga. Mereka bilang bahwa 1 meter perseginya tidak bisa di bawah 100.000,- Tapi kami sudah mendoakan tiap hari bahwa harganya hanya 3 M saja. Berarti itu tidak lebih dari 40 ribu semeter perseginya, karena tanahnya ternyata 7,8 hektar. Hal lain yang harus mereka bereskan yaitu, di tengah-tengah lahan ada lubang sekian meter persegi yang dalam sertifikatnya masih belum beres di klaim apakah sudah menjadi satu dengan semua tanah itu. Takutnya di kemudian hari kalau sudah pindah tangan, ada orang yang macem-macem nge-klaim tanah sejengkal itu khan jadi repot. Nah itu juga masuk daftar doa.

 

Tidak lama kemudian, sang broker yang adalah seorang PM (Polisi Militer) memberitahu Ketua Panitia Pembangunan KCC kita bahwa ada orang lain yang melihat tanahnya. Silakan. Tapi rasanya dia juga memberi sinyal kepada kami, jangan lama-lama, atau tanda yang lainnya. Setelah KePaPem KCC merasa waktunya tepat, dia meluncurkan jawaban sekaligus negosiasi harga, 3 M, sesuai ketetapan yang Tuhan taruh dalam hati saya. Sang PM menjawab bahwa harga segitu nggak bisa bosss….

 

Kami tenang, karena tahu Tuhan yang akan bekerja. Inget khan (sebenernya ini lebih menguatkan hati saya sendiri) bahwa jika Tuhan mau bekerja/meninggikan seseorang, polanya selalu akan direndahkan dulu? Daud, sebelum jadi raja malah mau dibunuh; Israel waktu mau keluar dari Mesir malah dipaksa kerja keras. OK, jawaban apa pun tidak menggentarkan kami (please pray for us). Ini baru negosiasi awal, dan kami tidak akan naikin harga kalau memang Tuhan nggak suruh, biar Tuhan sendiri yang bekerja dengan cara-Nya, ini khan lahan-Nya.

 

Pingin tahu nggak kas lumbung KCC sekarang udah berapa? Untuk mencapai 3 M hanya tinggal diperlukan 2.980.500.000. Sisanya masih dalam perjalanan.

 

 

TUGAS ANDA

Nah, sekarang tugas Saudara. Kami minta bantuan Saudara untuk berdoa dan ambil waktu khusus untuk puasa bagi tanah ini, hati si pemilik (lama) - agar hatinya dikejar dan harus menyerahkannya dengan harga yang Tuhan tetapkan. Doanya yaitu doa peperangan. Udah tahu khan gimana caranya? Ini diajarkan lewat pemuridan KCC, caranya yaitu dengan memperkatakan iman dan firman. Contoh: Aku percaya tanah di Sentul sudah jadi milik-Mu. Aku percaya pemilik sementaranya tidak bisa tidur sebelum menyerahkan tanah itu kepada Maqdalene. Aku perintahkan agar uang 3 M segera meluncur menuju lumbung KCC. Aku percaya pemimpin-pemimpin bangsa akan dipersiapkan lewat training di KCC. Aku percaya, aku yakin, aku ikat, aku perintahkan…dsb.

 

Sisipkan dalam doa makan, doa bangun tidur, doa sebelum tidur, dan doa-doa di mobil, di dapur, di toko, dsb. Doa yang nggak kalah pentingnya adalah bagi jiwa-jiwa yang akan Tuhan bawa dalam training KCC ini nantinya. Fokus kita jangan sampai tertuju pada “bangunan”nya, uangnya, gedungnya, tanahnya, megahnya, tapi jiwa-jiwa. Ini merupakan sentral dari hati Tuhan dengan berdirinya KCC building ini nanti. Jadi dalam doa saya diingatkan Roh Kudus agar nggak melenceng dari fokus hati Tuhan, yaitu jiwa-jiwa; bukan gemerlapnya cahaya gedung, atau prestige dari berhasilnya membangun suatu monumen, kebanggaan, atau kerakusan mental rendah semacam itu. Hati Tuhan bukan di gedung, tapi di jiwa. That’s very clear, right?

 

Selain doa puasa, nanti kalau ada sangkakala dari Kingdom berbunyi, kami minta Saudara berkumpul di lokasi, berdoa bersama mengucap syukur rame-rame atas terjadinya visi Tuhan untuk awal pertama, yaitu deal harga, serah terima sertifikat, disambung peletakan batu pertama. Sesudah itu masih banyak lagi rencana-rencana saya, yaitu jika Saudara mendengar sangkakala berikutnya, Saudara akan bantuin kerja bhakti di lokasi, bubut rumput, bawa cedok, ember, koran, arang, kayu, makanan, es batu, kwaci, entah apa lagi, kita kerja rame-rame jadi berkat bagi warga dan makan bersama orang kampung dan tukang-tukang. Itu masih agak lama sih, tapi saya rasa jika uangnya terkumpul secepatnya dan sebanyak-banyaknya, kejadian “sangkakala-sangkakala” ini nggak bakal lama. Pasti seneng donk Participant dateng ke lokasi pakai celana pendek, sepatu kets, jins belel, topi, keringatan, belepotan, bawa makanan lalu dimakan rame-rame. Asyik khan? Jika ada tiupan sangkakala lagi untuk kirim tanaman, pohon besar kecil, semen, batu bata, pasir, meja, komputer, meja kursi, kasur, sprei, wajan, dll, segera nanti mengirimkannya. Jika ada sangkakala untuk meminta Saudara untuk memberi bantuan medis untuk perawatan kesehatan gratis, para dokter akan berduyun-duyun menjadi terang bagi bangsa ini. Akan ada banyak tiupan sangkakala, dan kami tahu Saudara akan meresponinya di kemudian hari.

 

Kadang saya berpikir, oh Tuhan, saya ini cuman begini, tapi Your Majesty kok bener-bener mempercayai this humble servant untuk mengemban visi besar. Dan juga kalau mikir-mikir saya ini belum bisa sering-sering berkata “Tuhan berkata” kayak hamba Tuhan lain, tapi kalau saya denger suara keras dalam roh, saya pasti mengumandangkannya dan meniup terompet en sangkakala lewat e-mail dan mailing list seperti ini agar umat Tuhan bersatu membela bangsa kita, membangun “tembok yang rusak” di sana sini. Saya bersyukur saya dipakai dengan jenis apa adanya kayak gini, dan yang lebih bikin saya kagum yaitu Saudara, Participant setia, yang juga mempercayai saya sebagai Duta Sorga. How can I possibly thank you enough?

 

Nah, di bawah ini adalah ayat-ayat penting yang Tuhan taruhkan dalam hati saya, dimana saya disejajarkan dengan penuip sangkakala, saya diangkat jadi penjaga, salah satu pemimpin bangsa. Ada kalanya saya bertugas mengumpulkan pasukan-pasukan pembangun tembok, ada kalanya saya harus mengumandangkan maklumat Raja; adakalanya juga saya diminta agar mengingatkan untuk “menyelamatkan nyawa” seseorang jika ia hampir meleset dari panggilannya, dan jika ia mendengar peringatan saya, ia akan diselamatkan; tetapi yang menolak peringatan, darahnya akan tertimpa atasnya. Ini bukanlah sesuatu yang menakutkan, tapi saya memandangnya sebagai suatu yang normal. Pertama, ini merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada saya, bukan yang saya minta atau ambil secara paksa. Kedua, saya hanya disuruh Tuhan untuk membunyikan sangkakala, tidak ada paksaan dari saya atau Tuhan. Saudara yang mendengar seruan dalam hati harus menanggapi dan berduyun-duyun mengamalkannya – Saudara harus taat. Berikutnya, saya diminta menjadi penjaga teman-teman sebangsa untuk mengingatkan kesalahan. Jika saya memperingatkan Saudara dan Saudara menerima teguran dari Tuhan lewat saya, maka kita berdua aman. Tapi kalau saya sungkan dan nggak peringatin, maka saya yang dituntut. Tapi kalau saya udah peringatin dan Saudara menolak dan tidak mempercayai perintah Tuhan lewat saya, maka Saudara yang menanggung akibatnya. Itu saja. Ini bukan permainan saya, tapi ini perintah Tuhan kepada saya, dan saya tidak mempergunakannya sebagai pentung untuk siap memukul Saudara, tapi saya hanya akan mengatakannya jika saya merasakan desakan Roh.

 

 

Berkatalah aku kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain:

"Pekerjaan ini besar dan luas, dan kita terpencar pada tembok, yang satu jauh dari pada yang lain. Dan kalau kamu mendengar bunyi sangkakala di suatu tempat, berkumpullah ke sana mendapatkan kami. Allah kita akan berperang bagi kita!"

Nehemia 4:19-20.

 

1 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku:

2 "Hai anak manusia, berbicaralah kepada teman-temanmu sebangsa dan katakanlah kepada mereka: Kalau Aku mendatangkan pedang atas sesuatu negeri dan bangsa negeri itu mengambil seorang dari antara mereka dan menetapkan dia menjadi penjaganya

3 dan penjaga ini melihat pedang itu datang atas negerinya, lalu meniup sangkakala untuk memperingatkan bangsanya,

4 kalau ada seorang yang memang mendengar suara sangkakala itu, tetapi ia tidak mau diperingatkan, sehingga sesudah pedang itu datang ia dihabiskan, darahnya tertimpa kepadanya sendiri.

5 Ia mendengar suara sangkakala, tetapi ia tidak mau diperingatkan, darahnya tertimpa kepadanya sendiri. Kalau ia mau diperingatkan, ia menyelamatkan nyawanya.

6 Sebaliknya penjaga, yang melihat pedang itu datang, tetapi tidak meniup sangkakala dan bangsanya tidak mendapat peringatan, sehingga sesudah pedang itu datang, seorang dari antara mereka dihabiskan, orang itu dihabiskan dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari penjaga itu.

7 Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. Yehezkiel 33:1-7

 

Kasih dan Doa,

Maqdalene & Team Kingdom