Ketaatan mulai hal-hal kecil yang diajarkan di IDTC membawa saya pada Plan A disadarkan bahwa pelajaran ini dari awal sampai akhir ternyata ber"urutan" yang harus dilalui. Menerima semua masalah sebagai kesempatan dari Tuhan untuk Dia bawa pada rencana-Nya. Saya disadarkan untuk mengunci mulut untuk tidak memberikan tanggapan/pikiran negatif -->ternyata ini kesalahan saya. Harus peka menunggu waktunya Tuhan.
Kecintaan Bu Maq pada murid-murid yang menuntut murid-murid menjadi orang yang lebih dari sebelumnya, seperti rotan pada punggung saya. Ini menyadarkan saya, kalau tidak saya akan malas -->maunya di zona nyaman yang padahal tidak nyaman.
Sesi-sesi menancap di hati, apalagi saat memasuki sesi 6, Tuhan menelanjangi ternyata masih ada Ishak-Ishak yang tersimpan yang tidak boleh disentuh orang bahkan Tuhan: baik anak, kebiasaan, uang, harga diri, nanti orang bilang apa, ternyata itu yang menghambat berkat Tuhan yang lebih besar lagi.
Apa yang saya pikir sudah benar selama ini ternyata porak poranda & sesi-sesi menjadikan saya seperti nol, tidak ada apa-apanya. Semua sesi meninggalkan kesan yang amat sangat dalam dan siap untuk dipraktekkan dalam kehidupan saya.
Semua sesi sungguh sangat memberkati, karena pada dasarnya adalah Firman Tuhan atau memperjelas lagi untuk memiliki gaya/cara hidup Kerajaan Allah dan saya bersyukur punya hati yang lapar & haus untuk kebenaran, maka Tuhan memuaskan saya lewat IDTC ini. Saya telah banyak mengikuti seminar-seminar, lokakarya, dan sejenisnya di dalam dan luar negeri, tapi sungguh IDTC BERBEDA.
SEBELUM BERGABUNG SBG PARTICIPANT:
-. menganggap diri sendiri mengerti banyak FT yg diajarkan di gereja lokal (jadi ahli Taurat)
-. aktif dalam pelayanan di gereja lokal
-. ingin melayani Tuhan di luar gereja lokal, tidak puas dg yg sdh dilakukan di dalam
-. tidak mudah mengampuni org yg sdh bersalah/menyakiti
-. kurang mengandalkan Tuhan dalam pekerjaan, lebih banyak mengandalkan kepintaran diri sendiri, sehingga hasil tdk maksimal.
-. kurang murah hati dalam keuangan
-. tidak terbeban jiwa-jiwa
-. kurang menginjil (alias jago kandang)
SETELAH BERGABUNG SBG PARTICIPANT:
-. Pengertian Firman Tuhan yg lama telah berlalu dan yang baru telah terbit melalui tulisan-tulisan sister Maq. Paradigma yg lama dibongkar-bangkir.
-. Diberi kesempatan utk melayani bersama denganThe Kingdom di luar kota, luar pulau, juga di penjara.
-. Lebih mudah mengampuni orang yg menyakiti.
-. Sangat mengandalkan Tuhan dalam pekerjaan, sehingga hasilnya luar biasa. Berani mengambil langkah untuk memulai usaha sendiri dalam pendirian konsultan design, diberkati mulai tahun pertama hingga sekarang. Skala pekerjaan makin luas, dari design di dalam kota, kemudian ke luar kota, luar pulau, bahkan ke luar negeri. Atas kemurahan Tuhan terpilih dalam majalah SKALA+02 best design dlm karya arsitektur, juga beberapa kali karya dimuat di dlm majalah berskala nasional, seperti majalah ASRI dan LARAS. Dipercaya utk mengelola proyek di bali dg nilai milyaran rupiah, dll.
-. Lebih termotivasi utk memberi dalam pekerjaan Tuhan /utk memenuhi Amanat Agung secara konsisten.
-. Mulai ada beban untuk jiwa-jiwa.
-. Lebih 'menginjil' melalui membagikan buku BKI/VCD ke orang-orang dekat, teman-teman, family. Membagikan copy dari FMH ke teman yang membutuhkan
-. Mengerjakan tugas dalam pekerjaan dengan kesungguhan.
SETELAH MENGIKUTI KCC:
-. Lebih mengerti cara mempraktekkan Firman Tuhan dalam kehidupan setiap hari.
-. Pengeratan sifat-sifat yg tidak sesuai dg Firman Tuhan
-. Disiapkan utk melakukan apa yang Tuhan mau.
-. Terbimbing dalam pertumbuhan rohani secara step by step.
-. Diskusi interaktif dalam Firman Tuhan di setiap pertemuan berkala.
-. Belajar menyangkal diri
Enoch Muljono, Participant (KCCS) Surabayac
Desember 2007
Saya mengetahui adanya wadah participant dari Website Maqdalene.Net. Dan website itu saya ketahui dari Buku Berhasil Karena Iman. Waktu itu teman saya meminjamkan Buku BKI kepada saya, mulanya saya kurang begitu tertarik untuk membaca buku tersebut, namun karena saya sungkan kepada teman saya, takut kalau ditanya udah baca belum, terus belum baca, saya jadi nggak enak… Setelah 2 hari saya telantarkan buku tersebut, saya lalu membacanya…. Begitu saya start membacanya maka saya tidak bisa berhenti, saya membacanya terus, terus dan terus….. Karena waktu itu sudah hampir dini hari saya tutup buku tersebut dan saya melanjutkannya esok harinya…. Waktu itu saya ngebut membacanya dan terheran-heran dengan kisahnya waow, waow, waow menurut saya.. Benar-benar suatu kisah yang luar biasa. Dan besoknya sesudah saya menyelesaikan pembacaan buku tersebut, saya langsung mencarinya di toko buku karena saya ingin memilikinya sendiri.
Di toko buku saya menemukan buku yang lain yaitu Menikmati Kemustahilan. Dan saya mulai menikmati buku ini. Dan roh saya mulai tersentak membaca kalimat-kalimatnya istimewa pada hal 139 dimana tertulis: TUHAN TIDAK AKAN MEMBAWA KITA KEPADA PENGGENAPAN AKAN HARI ESOK SEBELUM KITA BERANI MENINGGALKAN HARI KEMARIN DAN HARI INI. DIA MEMILIKI RENCANA YANG INDAH UNTUK HARI ESOK, TETAPI KITA HARUS BERANI MELEPASKAN MASA LALU.
Saat itu saya memang lagi sedih-sedihnya ditinggal oleh suami saya yang meninggal karena keracunan gas LPG, dan terus terang saya belum dapat melepaskan diri dari semua yang saya alami tersebut, secara tidak saya sadari mungkin saya tidak terima akan kematian suami saya tersebut. Jadi waktu saya membaca hal itu roh saya seperti kaget karenanya.
Saya juga dikuatkan oleh kalimat-kalimat dalam buku BKI yang mengatakan: KITA TIDAK PERLU MEMPERTAHANKAN APA YANG KITA MILIKI, KITA TIDAK PERLU MEMEGANG ERAT APA YANG ADA PADA KITA, SUPAYA JIKA DIA MEMINTA KEMBALI DARI KITA, KITA AKAN MENGEMBALIKANNYA DENGAN KERELAAN HATI (BKI hal 171)
Dan juga: SAYA TIDAK PERLU MEMPERTAHANKAN APAPUN DARI ALLAH, SEBAB APA YANG SAYA MILIKI ADALAH KEPUNYAANNYA, DAN SEBALIKNYA, KEPUNYAANNYA ADALAH MILIK SAYA JUGA. JIKA DIA MEMINTA APA YANG BERHARGA BAGI SAYA, DIA AKAN MEMPER-TANGGUNGJAWABKAN PERBUATANNYA,…. JALANNYA ADALAH SEMPURNA (BKI hal 158)
Saya lalu mencari alamat website Sister Maqdalene, lalu menulis email kepadanya, saya pikir dijawab enggak yah? Eh ternyata dijawab, dan jawabannya menguatkan hati saya…… Dan waktu saya browsing di web site tersebut saya menemukan wadah yang namanya PARTICIPANT. Disitu orang – orang yang terbeban dengan pelayanannya tergabung. Saya lalu mendaftarkan diri.
Saya mulai join sebagai participant bulan Agustus 2005, tapi saya tergabung sebagai participant inactive atau participant yang tidak aktif, karena mula-mula saya kurang mengerti APA ITU PARTICIPANT, UNTUK APA DAN UNTUK SIAPA PARTICIPANT DIADAKAN, BAGAIMANA PARA PARTICIPANT TERSEBUT BERGERAK, dsb, dsb.
Sampai awal 2006 saya mulai aktif, namun hanya terbatas pada pen-transferan dana saja, saya belum tahu juga bahwa para participant bisa berperan aktif di dalam pelayanan Sister Maqdalene. Sampai bulan Mei 2007 saya mendapat suatu dorongan yang kuat untuk ikut melayani bersama team THE KINGDOM.
Nah dalam pelayanan ini saya mulai digodok habis-habisan. Jadi dalam pelayanan ini kami diajar bagaimana memiliki hati seorang hamba, yang harus taat, tunduk sepenuhnya dan mengenal otoritas yang Tuhan tetapkan dalam hidup kita. Kami diajar untuk mengenal otoritas yang Tuhan taruh diatas-atas kita dan belajar mengetrapkan dan menjalaninya dalam hidup kami. Kami ditegur kalau kami berbuat salah, suatu teguran yang langsung dan tanpa basa basi meskipun mereka melakukannya dengan kelembutan, tapi saya senang sebab dengan demikian kami akan mengingat kesalahan-kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya.
Kemudian dari pelayanan kami menginjak kepada PEMURIDAN. Wah kami senang sekali, karena kali ini kami diajar lebih dalam lagi akan Firman Tuhan yang diterapkan kepada aplikasi hidup sehari-hari. Pemuridan ini bukanlah suatu persekutuan kelompok kecil lain seperti yang ada di gereja-gereja. Tidak! Pemuridan ini berbeda. Kami diajar untuk menyangkal diri dan penyangkalan diri total/ sepenuhnya ini adalah target/ goal dari pemuridan ini. Ada pengikisan sifat, tabiat dan karakter kami yang kurang baik dari hari ke hari. Jadi ada target yang harus kami capai dari minggu ke minggu, dan kami dipantau terus secara intensif oleh THE KINGDOM. Kalau dulu saya suka acuh dan tidak peduli dengan jiwa-jiwa sekarang saya mulai cinta jiwa-jiwa, mulai bisa mendoakan jiwa-jiwa, mendoakan Hamba-Hamba Tuhan, mendoakan pelayanan dan lain-lain. Saya mulai suka berdoa syafaat, pagi dan malam hari.
Kami bersyukur kalau TUHAN mempertemukan kami dengan THE KINGDOM dan mengijinkan kami melayani Dia lewat dan bersama KINGDOM MINISTRIES ini, dan mengerjakan pembentukan karakter kami lebih jauh. Kalau dulu saya suka bolong-bolong baca alkitab, sekarang saya mulai komitmen untuk baca Firman Tuhan secara teratur, secapek apapun saya tetap harus baca, entah berapa pasal pokoknya harus baca, saya harus bisa men-set diri saya untuk memenuhi komitmen tersebut. Dan terus terang saat ini saya merasa lebih hidup dibanding beberapa tahun belakangan ini. Bahkan teman saya berkomentar, dia melihat bahwa hidup saya saat ini berbeda dengan waktu lalu, teman saya bilang kelihatannya hidup saya lebih colorful……. And it’s true….!!!
My life is more colorful now……..
Cyntia Kartika, Participant (KCCS)Surabaya
Desember 11, 2007
SEBELUM PEMURIDAN
*. Gampang marah
*. Tidak tahu tujuan hidup
*. Tidak menjadi berkat, malah menjadi batu sandungan buat orang lain, dalam perkataan dan perbuatan
*. Tidak punya goal yang jelas
*. Malas, tidak setia dalam hal-hal yang kecil
*. Kurang mengasihi anak dan istri
*. Sombong, menganggap remeh orang lain
*. Tidak suka berdoa dan baca firman serta buku-buku rohani
*. Tidak menyadari kuasa Firman dan kebenaraan firman, menganggap setiap firman ujung-ujungnya sama
*. Cinta berkat Tuhan
*. Tidak berhikmat, pikiran pendek
*. Malas bergereja, hatinya tidak di gereja
SESUDAH PEMURIDAN
*. Jadi lebih sabar dan lebih tenang dalam menghadapi masalah
*. Tahu tujuan hidup, menjadi murid Kristus yang hidup sesuai standar surga dalam setiap perkara baik di bisnis maupun pelayanan. Salah satu standar berupa hidup lebih dari orang lain, lebih berhikmat, lebih takut Tuhan dengan lebih giat berdoa dan baca firman, lebih berhasil dalam setiap perkara
*. Belajar menjadi berkat buat orang lain, dengan perkataan yang keluar dari hati yang mengasihi Tuhan dan perbuatan yang menunjukkan adanya kasih Tuhan daalam diri saya
*. Berani menetapkan goal yang jelas, dan berjuang untuk meraih goal tersebut
*. Lebih setia dalam perkara-perkara kecil, dan belajar lebih rajin di dalam pekerjaan, pelayanan dan keluarga
*. Menyadari bahwa anak dan istri adalah anugrah Allah yang terbesar dalam hidup saya, dan sadar bahwa anak harus dibentuk menjadi anak yang mengembangkan setiap potensi yang diberikan Allah pada dia, serta tidak lupa lebih mengasihi mereka seperti mengasihi diri saya sendiri
*. Menghargai orang lain, dan menyadari bahwa Allah mengasihi setiap orang, dan Allah mau kita mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri
*. Cinta firman, suka berdoa setiap waktu, dan hobinya ganti dari nonton TV jadi baca buku rohani
*. Percaya bahwa Firman Allah adalah hidup, berkuasa mengubah karakter, cara pandang, dan setiap Firman tidak ujung-ujungnya sama, melainkan arti dan makna setiap Firman dalam adanya. Cinta Tuhan, bukan cinta berkat Tuhan, mencari Tuhan, bukan berkat Tuhan
*. Belajar untuk mencari hikmat Tuhan setiap hari, belajar untuk berpikir jauh ke depan, tidak untuk masa saat ini saja
*. Percaya bahwa Tuhan menempatkan saya di gereja ada satu tujuan, tidak kebetulan, dan saya harus jadi berkat di gereja saya
Saya sangat berterima kasih atas kerelaan dan kesungguhan hati setiap mentor dan guru di Kingdom, saya percaya kalian ditempatkan di Kingdom karena Tuhan mengasihi kalian, Tuhan cinta kalian, Tuhan menghargai kalian, sehingga Tuhan mempercayai kalian untuk menjadi guru dan teladan buat kami para murid. Tidak akan habis satu buku untuk menyatakan terima kasih kami kepada : Sis Maq, Ibu Ruth, Ibu Irene, Ibu Vera dan Bapak Simon.
Saya percaya, kita akan bertemu nanti di rumah Bapa kita di surga dan bersama-sama menyelesaikan perlombaan yang disediakan buat kita semua, mencapai garis akhir dengan sempurna, dan Bapa bisa menerima kita sebagai hambanya yang setia. Terima kasih sekali lagi, Tuhan Yesus beserta kita sampai selama-lamanya.
SEBELUM PEMURIDAN
*. Hidup mengalir saja (tidak ada tujuan)
*. Malas berdoa (berdalih karena alasan sibuk dll)
*. Malas baca Firman Tuhan
*. Merasa sudah mengerti dan melakukan perintah Tuhan dengan benar
*. Mengandalkan kekutan sendiri
*. Stress ketika masalah datang
*. Khawatir akan masa depan
*. Berkompromi terhadap dosa (kebohongan, kepahitan, iri hati, menghakimi org lain)
*. Khawatir mengenai keuangan (dalam bidang usaha komp.)
*. Mengambil keputusan sendiri
*. Beribadah ke Gereja karena suatu kewajiban, sehingga benih Firman tumbuh di semak belukar. Jika suami marah-marah, saya bisa lebih marah-marah
SESUDAH PEMURIDAN
*. Ada goal yang harus dicapai hari demi hari
*. Mempunyai tujuan hidup yang harus sesuai dengan standar surga
*. Berdoa tiap pagi dan malam
*. Setiap ada kesempatan membaca dan menghafalkannya
*. Pikiran dan hati yang terbuka bahwa ternyata masih banyak hal mengenai perintah Tuhan yang harus dipelajari,
direnungkan dan diaplikasikan secara lebih maksimal dalam kehidupan sehari-hari
*. Menyadari sepenuhnya bahwa saya sangat rentan dan lemah sehingga sangat membutuhkan Tuhan dan bergantung kepadaNYA
*. Berdoa dengan sungguh-sungguh, menyerahkan masalah itu kepada Tuhan, memohon kekuatan, dan melakukan apa yang tetap menjadi bagian saya dan menantikan Tuhan yang bekerja
*. Mengucap syukur dan bersukacita, percaya bahwa Tuhan ada di samping saya, menyertai dan memelihara saya
*. Mengakui semua dosa-dosa itu(berkompromi dengan dosa), mohon kekuatan Tuhan untuk melepaskannya dan menggantikannya dengan buah-buah Roh (masih terus diuji, kadang-kadang lulus, tapi sadar harus mendisiplinkan diri untuk menyalibkan keinginan daging)
*. Menyadari ternyata selama hampir 5 tahun Tuhan selalu memberkati saya lewat usaha komputer ini, dan mempunyai kerinduan untuk bisa memberkati orang lain lewat berkat yang sudah saya terima
*. Menyerahkan kepada Otoritas Tuhan, dan percaya dengan KuasaNYA yang tidak terbatas dapat memberikan langkah-langkah yang sesuai dengan RancanganNYA melalui caraNYA yang luar biasa
*. Rindu untuk mendengar Firman Tuhan dan siap menabur benih Firman di tanah yang subur
*. Sabar, tetap tenang, menganggap itu ujian, tidak mau terpengaruh
Tidak ada kata-kata lain selain ucapan syukur kepada Tuhan dan TERIMA KASIH atas segala pelajaran, hikmat, dan pengenalan akan Firman Tuhan lewat Sis Maq, Pak Simon, Ibu Irene, dan ibu Ruth.
Investasi besar di surga, saya percaya Tuhan sediakan buat Saudara semuanya. Saya percaya kelak kita semua akan bertemu muka dengan muka dan bersama-sama memuji Tuhan dengan kemuliaanNYA. Saya selalu berdoa Tuhan akan memampukan dan memakai karunia Saudara semuanya dengan LUAR BIASA di bumi ini. AMIN
Nama saya Tommy Suryadi. Saya ingin menceritakan mengenai cinta kasih Tuhan yang luar biasa, yang membawa saya kepada pengenalan yang lebih dalam dengan Allah. Kehidupan saya cenderung lebih banyak di dalam dunia pelayanan, khususnya di Gereja Utusan Pantekosta Di Indonesia, Jemaat Makassar. Sebagai full timer saya tentunya dituntut untuk lebih rohani dari jemaat, oleh karena itu saya bersyukur mengenal Pemuridan (Discipleship), mengapa? Waktu itu saya sudah terlibat sebagai fasilitator di gereja, namun ketika saya menjalaninya saya merasa hanya sebagai aktifitas rohani saja. Pola pikir kami saat belum mengikuti pemuridan berbeda dengan sesudahnya. Hal ini disebabkan karena pengetahuan teologi yang saya dapatkan saat sekolah di STT Tawangmangu. Kami banyak belajar pada pengetahuan tentang Tuhan namun pada praktek hidup itu sangat kurang mendarat kepada perbuatan yang nyata sebagai seorang hamba Tuhan. Jujur banyak kesalahan yang saya buat sebelum mengikuti IDTC (Intensive Discipleship Training Course) karena pengetahuan, kurang mendarat pada praktek hidup sebenarnya jadi kadangkala yang terjadi. Saya suka berdebat dalam pemuridan lokal yang sudah kami adakan di Makassar. Hal ini karena merasa sudah banyak menerima doktrin, pengajaran dari dosen-dosen di kampus. Jadi membawa saya untuk banyak berdebat sehingga di Pemuridan Youth pernah bubar beberapa waktu lamanya karena perdebatan. Ada 3 Fasilitator termasuk saya dan 2 teman lainnya. Saya kadangkala mempertahankan Pemuridan namun yang terjadi dalam pembicaraan ada pro dan kontra, sehingga sampai kepada perdebatan. Hal ini kami sadari suatu kesalahan besar jika tanpa karakter yang sungguh-sungguh dimuridkan.
Setelah mengikuti pemuridan KTC/IDTC di Sunter Jakarta selama 3 minggu, saya cenderung disadarkan bahwa pengetahuan teologi tanpa sebuah praktek hidup nilainya kosong. Karena yang para murid butuhkan adalah jawaban dan bukan pengetahuan semata. Jadi kesimpulan saya dalam kesaksian ini pengetahuan teologi jika diimbangi dengan karakter murid maka akan terlihat saling melengkapi. Bukan hanya sekedar khotbah kebenaran tapi lebih kepada menghidupi khotbah yang disampaikan.
Kiranya dengan kesaksian ini dapat memberikan sumbangsih bagi perubahan pola pikir kita dalam memahami perintah Tuhan yaitu Menjadi Murid (Mat.28:19-20)
Saya Ronald Saleh Bakry, lahir dari orang tua yang berbeda keyakinan, membuat saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Pada tahun 2002, ayah saya dipanggil oleh Tuhan dan lewat kejadian ini membuat saya berkenalan dengan seorang pemimpin rohani yang kemudian membawa saya untuk dididik di gereja. Sekalipun saya tinggal di gereja sejak tahun 2002 dan terlibat pelayanan tapi justru panggilan untuk melayani Tuhan saya terima pada tahun 2005. Pada tahun 2005 tepatnya tanggal 8 Mei, saya mengambil keputusan untuk mengingkuti pendidikan di sekolah Tinggi Teologi di Jawa Tengah. Semasa dalam masa persiapan di sekolah Tinggi Teologi saya banyak diajarkan bagaimana menjadi seorang hamba Tuhan. Setelah lulus pada tahun 2009, saya kembali ke gereja asal saya di Makassar dan membatu pelayanan pemimpin rohani saya.
Pada awal 2010 saya mulai kehilangan semangat dalam melayani Tuhan karena kondisi keluarga saya yang sulit. Saya memiliki kakak yang terikat narkoba ditambah kesulitan ekonomi yang dialami ibu saya karena sudah tidak bekerja lagi, membuat saya kemudian berpikir untuk meninggalkan pelayanan dan bekerja untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarga. Saya kemudian mulai mencari-cari informasi lowongan pekerjaaan kepada teman-teman tanpa sepengetahuan pemimpin rohani saya. Akhirnya saya mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan dari teman dekat; saya mengerti tawaran yang ditawarkan sangat bertolak belakang dengan panggilan saya. Tawaran tersebut adalah berkerja di diskotik pada bagian waters/pengantar minuman. kebutuhan ekonomi yang mendesak membuat saya mulai mencari-cari alasan untuk mendukung keinginan saya untuk bekerja di diskotik sebagai waiters yang kadang kala harus menemani tamu untuk ikut minum-minuman keras. Saya berpikir saya akan tetap kuat dan tidak akan terpengaruh dengan kehidupan di diskotik; itu merupakan salah satu alasan yang saya buat untuk mendukung keinginan saya berkerja di diskotik. Pengetahuan teologi yang saya dapatkan di sekolah teologi tidak menjamin perubahan hidup kita untuk tetap kuat dalam pelayanan. Bahkan ketika kondisi ekonomi menghimpit saya dan keluarga membuat saya malah mengambil sebuah keputusan yang salah untuk lari dari panggilan sebagai seorang hamba Tuhan. Pengetahuan teologi dan panggilan saya mulai goyang ketika persoalan ekonomi datang pada kehidupan saya. Tetapi saya sangat bersyukur bahwa Tuhan begitu baik dengan saya sehingga lewat training pemuridan yang saya jalani di KCC Jakarta berdampak besar buat hidup saya. Saya mengalami perubahan pola pikir dan kembali dikuatkan untuk tetap kuat dalam panggilan. Lewat IDTC tersebut banyak hal yang saya dapatkan mengenai cara pelayanan dan juga pola pikir yang seharusnya dimiliki oleh seorang hamba Tuhan.